Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hukuman Keras Terhadap Orang Yang Suka Menyesatkan Seperti Ini [Markus 9:43]

dunia modern dengan segala teknologi dan kesesatannya

Kata “menyesatkan” dalam bahasa Yunani  disebut skandalizō, yang artinya menaruh sebuah perangkap atau jerat di jalan yang akan dilalui seseorang, sehingga membuat orang itu tersandung. Dari definisi tersebut melalui Markus pasal 9 ini, Tuhan Yesus memberi peringatan bahwa menyesatkan orang lain dan menyesatkan diri sendiri adalah tindakan yang tidak baik. 

Pula sekaligus menjelaskan bahwa jangan sesekali ada niat untuk menyesatkan. Atas hal itu Tuhan Yesus  memerintahkan untuk memenggal tangan, adalah sebuah kiasan yang bersifat hiperbol. Jadi ayat ini tidak boleh secara harfiah diterjemahkan untuk hidup yang ekstrem.

a. Penyebab seseorang jatuh dalam dosa

Sesungguhnya dosa adalah masalah hati. Jadi, jika kita memotong tangan kanan, masih ada tangan kiri yang dapat melakukan dosa. Dan, jika kita memotong semua anggota tubuh, masih ada pikiran dan hati yang dapat berbuat dosa. 

Dari sini kita melihat bahwa sesungguhnya yang Tuhan inginkan adalah keaktifan kita melawan segala sesuatu yang akan menjauhkan kita dari Tuhan. Yaitu dengan cara segera menyingkirkannya. 

Memang bisa saja dosa terjadi melalui tangan atas sesuatu yang kita pegang, melalui kaki karena jalan yang kita lalui, dan melalui mata karena apa yang kita lihat. Oleh sebab itu aktif melawan dosa sangat diperlukan. Bila tidak, berarti neraka yang akan menjadi bagian kita (Markus 9:47). 

b. Pentingnya melatih diri agar tidak kehilangan upah iman

Selanjutnya melalui ayat ini, Tuhan Yesus menekankan pentingnya untuk masuk ke dalam hidup. Kata hidup disini relevan dengan ayat 47, yaitu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Istilah Kerajaan Allah merupakan lawan kata neraka, dan dipahami sebagai tujuan akhir hidup orang yang diselamatkan. Atau sering juga disebut kerajaan kekal. 

Neraka merupakan terjemahan dari kata Yunani geenna. Yang merupakan peralihan dari kata Ibrani gê hinnōm, yang artinya "lembah Hinnom." Lembah ini terletak di barat daya Yerusalem dan dikutuk karena pernah menjadi tempat penyembahan dewa Molokh. 

Tempat itu kemudian menjadi tempat pembuangan sampah kota, di mana api terus berkobar, dan memusnahkan sampah itu menjadi abu. Sampah dan kotoran yang dibuang di situ juga pasti banyak berulat. Di dalam pemikiran Yahudi, lembah itu menjadi lambang dari tempat penghukuman kekal. Tuhan tidak menghendaki umat-Nya melakukan dosa.

Oleh karena itu, ayat ini menegaskan bahwa bila ada orang yang menyebabkan orang lain berdosa, maka ia harus menerima ganjaran (Markus 9:42). Bahkan bila salah satu anggota tubuh kita menyebabkan kita berbuat dosa, Tuhan menyuruh kita untuk membuangnya. Membuang kemana?. Tentu ke "lembah Hinnom" tersebut.

Untuk menghindari hal tersebut maka kita harus melatih diri hidup suci, damai dan penuh kasih. Caranya adalah meminta petunjuk dan bimbingan dari Tuhan melalui doa, agar kita tidak jatuh dalam dosa. 

Selain itujangan mencari hal-hal besar baik hanya dalam pikiran, terlebih dalam sebuah tindakan langsung. Tetapi hiduplah selau dalam kerendahan hati. Walau semua itu kelihatan sepele, namun tidak ada kompromi. Sebab hanya dengan cara tersebut upah iman akan kita peroleh. 

- Lampiran nas renungan

Ayat Harian Markus 9 ayat 43; “Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;” Amin.

Posting Komentar untuk "Hukuman Keras Terhadap Orang Yang Suka Menyesatkan Seperti Ini [Markus 9:43]"