Tips Agar Mahasiswa Kristen Dapat Melaksanakan Tugas Praktek Khotbah Dengan Benar
Mengingat materi yang disampaikan dalam artikel ini bukan ilmu pengetahuan biasa (duniawi), jadi barometer "benar" yang dipakai Penulis dalam judul tidak mengacu pada hal-hal duniawi. Melainkan mengacu pada kehendak Tuhan (Alkitab), atau lebih spesifik yang menjadi standar kebenaran yang dimaksud adalah teladan atau citra Kristus Yesus.
Pembaca gembalaumat.com, Penulis sering ditunjuk menjadi team penilai di gereja atas pelaksanaan tugas praktek khotbah bagi mahasiswa Kristen. Dan hal itu telah terjadi kurang lebih 10 tahun terakhir.
Pada kesempatan ini mencoba mengembangkan beberapa unsur-unsur yang sangat penting dalam pelaksanaan tugas tersebut. Supaya mahasiswa dapat terbantu sejak persiapan, yaitu penyususnan kerangka dan bahan khotbah. Hingga pada hari H, yakni pada saat penyampaian khotbah dihadapan jemaat.
A. Unsur-unsur khotbah dan materi peniliaan praktek
Penulis memperoleh unsur-unsur khotbah dan materi peniliaan praktek berikut ini, berasal dari salah satu kampus yang bekerjasama dengan gereja Kami dalam hal tugas praktek khotbah. Akan tetapi oleh kampus unsur-unsur tersebut dibuat hanya garis besar. Alias tidak terperinci bagaimana teknis pelaksanaannya sejak awal hingga akhir.
Oh iya, mengenai hal itu secara akademik mungkin telah dijelaskan di kampus. Pertanyaannya, apakah yang dijelaskan tersebut aplikatif?. Membuktikan hal itu silahkan bandingkan dengan tulisan yang Kami buat dalam artikel ini. Atas dasar hikmat dari Roh Kudus semoga sesuai dengan harapan (visi/misi) gereja dan jemaat Tuhan masa kini.
1. Aspek Penarik Pendahuluan Khotbah
Seperti kata pepatah "kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah Anda". Dalam hal ini aspek penarik perhatian jemaat penting dicapai yaitu untuk:
- Mencegah midset negatif akibat Anda masih seorang mahasiswa
- Menumbuhkan rasa percaya diri awal menyampikan firman.
Penarik perhatian jemaat pada saat pendahuluan khotbah bisa dilakuan dengan cara improvisasi spontan, antara lain:
- Menyapa jemaat satu persatu. Misalnya, pertama menyapa para kaum bapak-bapak, lalu para ibu-ibu dan terakhir para muda-mudi.
- Membaca teks firman dengan cara responsoria unik. Misal jemaat tahun kelahiran Ganjil membaca ayat ganjil, sementara tahun kelahiran Genap membaca ayat genap.
- Improvisasi sesuai tema khotbah/minggu. Misalnya tema minggu adalah Kantate (Bernyanyi), maka sebelum firman disampaikan jemaat diajak bernyanyi puji-pujian bersama.
- Pada kondisi tertentu perkenalan singkat juga mampu menarik perhatian jemaat. Misalnya ketika memiliki prestasi khusus. Maka prestasi tersebut secara tidak langsung menjadi ajang kesaksian, sekaligus motivasi bagi jemaat agar lebih serius mendengar khotbah yang akan disampaikan.
2. Ide Pokok Nats
Khusus gereja-gereja yang tergabung dalam UEM, bahan khotbah (Evanggelium) selalu ditentukan dari ayat Alkitab tertentu dalam satu tahun. Nah, ide pokok yang dimaksud disini adalah "satu atau lebih kata kerja, dan/atau kata sifat" yang terkandung dalam tema khotbah yang telah ditentukan.
Misalnya topik khotbah pada hari Minggu, 11 Agustus 2024 adalah "Hidup Baru dalam Kasih Kristus" (Efesus 4:25-32). Maka yang menjadi ide pokok nas adalah: 1]. Hidup baru, dan 2]. Kasih.
Tujuan menentukan ide pokok adalah untuk memastikan firman yang disampaikan tetap dalam koridor tema. Oleh sebab itu pada saat menyusun kerangka dan bahan khotbah, yang menjadi titik acuan adalah ide-ide pokok tersebut.
Dalam hal ini bagi pemula, bilamana ide pokok dianggap terlalu banyak sehingga merasa tidak mampu untuk menjabarkan keseluruhan dengan baik. Ada baiknya memilih salah satu yang dianggap paling mudah. Misalnya diantara 2 contoh ide pokok diatas yang paling mudah untuk dijabarkan adalah tentang kasih.
Namun demikian tidak menutup kemungkinan semua ide pokok yang terdapat pada nas khotbah dapat disampikan dengan sempurna. Asalkan mahasiswa didampingi oleh seorang Gembala/Pendeta pada saat penyusunan kerangka, hingga mengembangkan materi/bahan khotbah.
3. Latar Belakang Nas Khotbah
Latar belakang ayat Alkitab yang menjadi bahan khotbah penting diketahui untuk memastikan:
- Kepada siapa ayat tersebut awalnya disampaikan,
- Dalam kondisi (lingkungan sosial, budaya dan geografis) bagaimana ayat tersebut dahulu disampaikan
- Melalui siapa ayat tersebut disampaikan. Apakah oleh seorang Nabi, Raja, Hakim, Rasul atau tokoh lain dalam Alkitab.
Metode dan tujuan penggalian latar belakang ayat Alkitab hemat Penulis sama dengan eksegese. Yaitu upaya pencarian makna yang tersebunyi dalam ayat untuk dijadikan bahan penjabaran ide-ide pokok yang telah ditentukan. Dengan demikian khotbah yang disampaikan tidak out of context.
Latar belakang nas khotbah dapat diketahui dengan mudah yaitu dari:
a. Ayat atau pasal sebelum nas khotbah (intertekstual)
Misal ayat khotbah diambil dari Efesus 4:25-32. Maka latar belakang teks kemungkinan besar ada di ayat 24 atau sebelumnya. Atau, berada di pasal 3 dan/atau pasal sebelumnya. Jadi jangan hanya membaca nas khotbah.
b. Ayat paralel khotbah (intratekstual)
Ayat pararel disini maksudnya adalah ayat bacaan (Epistel) yang telah ditentukan oleh UEM untuk hari minggu tersebut. Kedua, adalah nats yang ditulis dibawah judul/sub judul teks Alkitab.
Pada umumnya ayat paralel khotbah diambil dari kitab yang berbeda. Misal, jikalau khotbah berasal dari PL maka ayat paralelnya diambil dari PB. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan dari kitab yang sama. Misal nas khotbah diambil dari kitab Injil, lalu ayat paralelnya dari surat-surat. Jadi sama-sama dari PB.
Nah kaitannya dengan upaya pencarian latar belakang dari ayat paralel. Memang tidak selalu kontekstual sebagaimana yang terjadi pada teks khotbah. Akan tetapi pada umumnya menyerupai peristiwa, sehingga dapat juga disebut tipologi.
4. Hermenetik
Atau tafsir teks. Lebih mudah dilakukan jikalau latar belakang khotbah telah ditemukan. Dengan demikian mahasiswa yang praktek dapat menjelaskan historical context dengan baik kepada jemaat, beserta makna-makna yang tersirat didalamnya untuk diaplikasikan dalam kehidupan masa kini.
Sebenarnya hermenetik bukanlah satu hal yang perlu ditakuti. Karena khawatir salah tafsir dan mengarah pada ajaran salah (sesat). Sebagai pemula langkah awal yang perlu dilakukan setelah mengetahui latar belakang adalah melakukan tafsir aktualisasi/implementasi. Jadi, sifatnya mengarahkan khotbah ke situasi masa kini. Dan, bilamana memungkinkan dijabarkan hingga pada masa yang akan datang.
Sementara itu yang perlu dihindari adalah melakukan tafsir teks lintas bahasa internasional. Misalnya mencari teks asli kata "kasih" dalam bahasa Yunani. Lalu, berupaya menafsirkannya berdasarkan pengertian bahasa (gramatika) Yunani. Maka dengan keterbatasan pemahaman bahasa Yunani, maka Anda kemungkinan besar melakukan kesalahan tafsir.
Hemat Penulis pebendaharaan kata dalam bahasa Indonesia sudah cukup banyak untuk menafsirkan makna yang tersirat dalam satu kata. Selain dari KKBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah-istilah lokal yang berasal dari bahasa daerah pun sangat membantu Kita untuk melakukan hermentik.
Jadi, sekali lagi bagi pemula hermenetik cukup dilakukan dalam koridor bahasa regional, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa suku/daerah. Dengan demikian khotbah yang disampaikan tidak berpotensi menjadi ajaran/doktrin yang salah.
5. Pokok-pokok Teologia
Pokok-pokok teologia Kristen adalah segala hal yang berkaitan dengan hadirat Allah, sifat-sifat Allah, ajaran, sejarah, hingga pengakuan dan konsep/rumusan kepercayaan. Berbeda dengan ide pokok sebagaimana dijelaskan pada poin 2.
Mahasiswa yang sedang praktek, penting menyampaikan pokok-pokok teologis sebagai pengingat bagi diri sendiri, maupun kepada jemaat bahwa Allah lah sumber dan pemilik kehidupan. Dengan kata lain manusia hanya sebagai ciptaan yang setiap saat tergantung pada kemurahan Sang Pencipta.
Lebih spesifik mengenai keberadaan manusia dihadapan Allah dapat dilihat dari sifat-sifat Allah. Yakni: 1]. Maha kuasa, 2]. Maha tau, dan 3]. Maha hadir. Dalam bahasa asing disebut Omni Patient, Omi Science dan Omni Present. Apakah ada manusia yang bisa menyamai sifat-sifat tersebur?. Satu pun tidak!.
Masih banyak pokok-pokok teologis yang dapat disampaikan dalam khotbah, akan tetapi hemat Penulis tidak perlu semua. Cukup diambil beberapa yang berkaitan erat dengan nas khotbah.
Misalnya tema khotbah tentang berdoa (Rogate). Maka pokok-pokok teologis yang dibahas antara lain tentang:
- Esensi doa dalam Kristen
- Contoh doa yang diajarkan oleh Alkitab
- Sikap berdoa yang benar
- “Kuasa” yang ada dalam doa.
6. Ilustrasi
Illustrasi dalam khotbah dapat membantu jemaat untuk memahami makna yang tersirat dalam nas Alkitab, maupun pesan-pesan rohani yang akan disampaikan oleh pembawa khotbah. Metode ini mirip dengan pengajaran yang disampaikan oleh Yesus dalam bentuk perumpamaan.
Bahan illustrasi dapat diperoleh dengan 2 cara, yakni: 1]. Pengalaman pribadi, atau 2]. Referensi kisah/cerita.
Perntanyaan, mana yang lebih menarik untuk disajikan dalam khotbah?. Jawabnya tergantung seberapa kuat illustrasi yang Anda sampaikan "menyentuh dan mengugah" nurani jemaat untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Khusus mahasiswa yang praktek saran Penulis lebih baik memilih illustrasi referensi. Mengingat usia Anda masih muda, illustrasi berdasarkan pengalaman pribadi kemungkinan besar tidak efektif untuk menggugah rohani pendengar/jemaat.
Agar sinkron dengan nas khotbah yang dibawakan, illustrasi referensi dipilih dengan cara mengambil persamaan konteks. Misalnya tema khotbah adalah tentang jati diri dan keteguhan iman, maka illustrasi yang cocok dengan hal tersebut misalnya tentang sebutir telur yang menetas, atau sebuah tanaman bunga dalam pot.
7. Implementasi Khotbah
Tujuan akhir khotbah yang sebenarnya adalah menumbuhkan komitmen para jemaat untuk melakukan seperti yang disampaikan dalam khotbah dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh sebab itu penekanan mengenai implementasi harus lebih sering disampaikan selama berkhotbah. Misalnya pada saat menjelaskan tentang ide pokok, latar belakang, pokok-pokok teologia dan illustrasi.
Jadi, penekanan mengenai implementasi sebaiknya tidak dirangkum dalam satu waktu penyampaian. Melainkan di buat acak. Supaya unik dan tidak membosankan.
Unsur penting lainnya yang harus diperhatikan pada saat menyampaikan implementasi khotbah kepada jemaat adalah substansi dan mekanisme. Artinya dasar firman sehingga hal tersebut menjadi urgen untuk dilakukan. Dan deskripsi, teknis serta contoh konkrit implementasi.
Contoh ketika mengajak untuk menolong orang. Maka dasar firman yang diambil misalnya Matius 22:39. Lanjut menjelaskan tentang deskripsi orang yang pantas ditolong menurut Alkitab, kemudian metode dan contoh. Dalam hal ini yang dimaksud contoh adalah memperagakan cara memberi yang baik/benar.
8. Aspek Penggugah Penutup Khotbah
Penulis lebih suka menggunakan istilah Clossing Evanggelium. Karena penggugah khotbah bisa dilakukan disepanjang waktu berkhotbah, seperti telah dijelaskan pada poin-poin sebelumnya. Jadi, tidak hanya pada saat khotbah akan berakhir.
Tujuan clossing evanggelium bukan untuk menarik perhatian agar jemaat serius mengikuti jalannya khotbah. Akan tetapi untuk memberi kesan tersendiri, agar mereka mengingat apa yang disampaikan dalam khotbah. Oleh sebab itu clossing evanggelium tidak harus persis sesuai dengan tema khotbah yang dibawakan.
Contoh clossing evanggelium yang bagus adalah membuat yel-yel, bernyanyi bersama, membaca refleksi dengan setengah suara secara bersama-sama, dan masih banyak metode lain.
Singkatnya, mahasiswa yang sedang melakukan praktek khobah pada satu gereja harus berani menampilkan hal-hal unik. Tentu dalam koridor yang tidak melanggar aturan gereja tersebut maupun doktrin, dan dogma Kekristenan secara umum.
B. Teknik Berkhotbah yang Benar
Berkaitan dengan aspek teknis berkhotbah tentu masing-masing orang berbeda. Sebab hanya oleh urapan/kuasa dari Rohul Kudus lah maka seseorang bisa tampil “memukau” jemaat dari mimbar. Maka pada bagian ini Penulis sepenuhnya share pengetahuan Homiletika berdasarkan pengalaman.
a. Intonasi dan Jeda Kalimat
Intonasi suara saat berkhotbah ada 3, yakni keras, lembut dan datar. Suara keras cocok diterapkan pada saat memaparkan tentang pokok-pokok teologis, nubuat, kasih karunia dan janji keselamatan Allah.
Sedangkan intonasi suara lembut efektif menggugah hati pendengar ketika menyampaikan suatu pesan. Baik yang bersifat sekedar ajakan, hingga perintah maupun larangan. Dengan catatan kalimat harus jelas dan tidak bertele-tele.
Sementara itu intonasi suara datar atau sedang cocok diterapkan disela-sela intonasi suara keras dan lembut. Dan pada saat itu lah momen yang tepat Anda menerapkan jeda kalimat. Yaitu untuk beralih dari sub topik yang satu ke sub topik yang berikutnya.
b. Gramatika
Penggunaan tata bahasa (gramatika) yang baik/benar saat berkhotbah memang menjadi satu keharusan. Akan tetapi hal ini bisa membuat suasana menjadi membosankan bagi jemaat maupun bagi orang yang berkhotbah.
Guna mencegah hal tersebut sekaligus untuk melakukan improvisasi diri sebelum berkhotbah penting melakukan survei audiens. Antara lain rata-rata usia, latar belakang profesi, asal-usul dan bahasa yang digunakan mayoritas.
Berdasarakan survei tersebut maka Anda bisa menentukan style khotbah yang akan disampaikan. Apakah dominan serius dengan menggunakan kalimat-kalimat yang formal. Atau, sedikit kocak dengan menggunakan bahasa-bahasa gaul.
Penulis sadar bagi mahasiswa pemula, menerapkan metode kedua ini pasti terkendala oleh rasa percaya diri. Sehingga cenderung memilih metode pertama. Oleh sebab itu selalin melakukan latihan vocal, rasa percaya diri dapat tumbuh secara otomaris jikalau materi khotbah bagus.
Sekali lagi Penulis perlu melakukan disclaimer. Bagus dalam hal ini berarti mencerminkan kebenaran Illahi dan by data/firman. Jadi tidak berdasarkan opini yang dikutip, atau opini diri sendiri.
c. Jenis dan Volume Suara
Sebenarnya jemaat lebih suka pada: 1]. Jenis suara yang asli, dan 2]. Volume suara yang alami. Dibanding mendengar suara hasil rekayasa. Oleh sebab itu bagi mahasiswa yang praktek berkhotbah tidak perlu terganggu dengan jenis suara yang dimiliki.
Namun demikian pada saat-saat tertentu tidak menutup kemungkinan Anda perlu melakukan rekayasa vocal. Misalnya pada saat meniru tokoh tertentu pada saat menyampaikan illustrasi atau lelucon. Sehingga suasana menjadi rileks.
Dalam hal ini selain rasa percaya diri yang dibutuhkan adalah jiwa humor. Nah bilamana 2 unsur ini belum Anda miliki sepenuhnya, sebaiknya jangan diterapkan dahulu. Supaya rasa percaya diri Anda tidak down, ketika rekayasa vocal tidak sukses membuat pendengar terhibur.
d. Ekspresi
Khotbah menjadi menarik perhatian jikalau ekspresi orang yang menyampaikan khotbah selalu selaras dengan kalimat-kalimat yang diucapkan. Perhatikan kata kuncinya adalah selalu. Artinya harus terjadi "penjiwaan" pada materi khotbah. Sebab hanya dengan adanya kesatuan antara yang membawakan khotbah dengan materi khutbah, maka ekspresi dapat tercipta secara alami.
Misalnya ketika berkata dengan intonasi keras; "Alkitab membatasi ruang gerak kita agar tidak larut pada hal-hal yang bersifat duniawi. Tetapi selalu membuka jalan dan peluang agar kita mau melakukan perubahan dan inovasi..". Ekspresi yang muncul secara lahiriah setidaknya ada 3, yakni:
- Kecewa. Muncul karena ada pembatasan ruang gerak.
- Terhibur; karena diberi pilihan jalan lain, Lalu,
- Bersemangat. Karena ada peluang akan lebih baik dari sebelumnya.
Masih berkaitan dengan ekspresi. Sekalipun masih pemula, Anda wajib melakukan kontak mata dengan jemaat. Minimal 50% dari total waktu yang dipakai berkhotbah. Nah pada saat kontak mata tersebutlah momen yang terbaik untuk memperlihatkan ekspresi Anda kepada jemaat. Tujuannya apa?. Untuk menjalin hubungan emosional (Emotional Qoutient) dengan jemaat.
e. Penguasaan Media/properti
Masa kini penggunaan media proyektor/slide saat khotbah sudah dianggap biasa dan menjadi satu keharusan. Karena sangat efektif membantu menjelaskan materi khotbah. Pun dapat memancing imajinasi jemaat pada materi khotbah yang telah disampikan, maupun yang belum. Jadi, mahasiswa yang melakukan praktek khotbah sebaiknya menyiapkan PPT khotbah untuk ditampilkan di layar proyektor.
Selain itu, properti berkhotbah yang tidak kalah penting dan harus Anda kuasai adalah pengeras suara. Misalnya mengenai posisi tombol On/Off, serta pengaturan jarak bicara. Supaya tidak terlalu dekat maupun tidak terlalu jauh.
Oh iya, satu lagi mengenai kertas teks khotbah. Sebaiknya tidak terlihat oleh jemaat. Karena hal itu bisa membuat konsentrasi jemaat terganggu.
D. [Penutup] Tujuan Praktek Khotbah dan Hal-hal yang Harus Anda Hindari
Merujuk pada literatur yang ada di internet, tugas praktek khotbah bagi mahasiswa Kristen adalah penyampaian Injil dan/atau Firman Tuhan oleh seorang mahasiswa dihadapan jemaat salah satu gereja secara terstruktur, dan berpusat pada teks Alkitab yang telah ditentukan oleh organisasi gereja.
Jadi pada dasarnya tujuan pelaksanaan praktek ini adalah untuk mengasah kemampuan mahasiswa dalam rangka menyusun materi khotbah, kemudian menyampaikannya ditengah-tengah jemaat sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh gereja dimana mahasiswa tersebut melakukan praktek.
Masih merujuk pada literatur, tugas praktek khotbah bagi mahasiswa Kristen ternyata menjadi salah satu syarat utama mata kuliah Homiletika (Ilmu Berkhotbah). Umumnya dilakukan oleh mahasiswa sejak semester 4 sampai semester akhir. Dengan kata lain menjadi salah satu persyaratan utama untuk kelulusan program study Sarjana Teologi (S.Th).
Oleh sebab itu momen tugas praktek khotbah harus dipergunakan semaksimal mungkin, yaitu untuk:
- Melatih diri berbicara tentang firman Tuhan dari atas mimbar,
- Merasakan hadirat Roh Kudus,
- Berinteraksi dengan jemaat Tuhan
Hal-hal yang harus Anda hindari saat berkhotbah antara lain:
- Perkenalan panjang lebar,
- Memulai khotbah dengan pertanyaan,
- Khotbah disampaikan dengan cara membaca teks,
- Tidak pernah menyapa jemaat,
- Menggunakan kata/kalimat yang tidak Bibical. Misalnya; mungkin, cerita Alkitab dan sebagainya.
- Khotbah terlalu pendek, atau panjang.



Posting Komentar untuk "Tips Agar Mahasiswa Kristen Dapat Melaksanakan Tugas Praktek Khotbah Dengan Benar"