Pentingnya Pergi Ke Rumah Duka Dibading Ke Rumah Pesta [Pengkhotbah 7:2]
Ketika sebuah keluarga mengadakan pesta pernikahan anaknya, pasti menyambut para tamu yang datang ke rumahnya dalam suasana gembira. Makan bersama sambil menikmati musik dan lagu, serta saling sapa antara satu dengan yang lain. Singkatnya pasti penuh bahagia dan sukacita.
Berbeda jauh dengan situasi kemalangan. Rumah duka pasti diisi dengan ratap dan tangis. Atau setidaknya banyak yang murung, karena turut merasakan kesedihan keluarga yang berduka. Jadi dipastikan orang akan lebih senang pergi ke rumah pesta, dibanding ke rumah duka.
Penulis buku Pengkhotbah melalui nas hari ini, mengingatkan umat Tuhan justru sebaliknya. Yakni lebih baik pergi ke rumah duka daripada ke rumah pesta. Mengapa?.
Alasannya ada 2, yaitu:
- Untuk mengungkapan kasih yang mendalam kepada orang-orang yang tengah berduka, serta
- Ajang introspeksi diri; bahwa ada ajal yang menanti untuk setiap orang.
Pengkhotbah sebenarnya bukan melarang setiap orang percaya pergi ke rumah pesta. Karena Yesus Juruselamat kita pun pergi ke pesta pernikahan di Kana. Namun sisi lain, Ia juga menangis di makam teman-Nya di Betania.
Maksudnya, kita harus membuat prioritas. Ketika dalam waktu yang bersamaan kedua momen itu terjadi, maka pilihan terbaik dan dikehendaki oleh Tuhan adalah pergi ke rumah duka.
Pergi ke rumah duka maksudnya untuk memberikan penghiburan dan penguatan. Sehingga mereka yang dikunjungi merasakan simpatik yang kita berikan, sebagaimana yang diajarkan Yesus Kristus. Tentang aksi kasih yang harus nyata.
Pergi ke rumah duka alam hal ini sinomin dengan ke pemakaman, atau ziarah. Bukan untuk melihat megahnya makam. Melainkan untuk mengingat masa hidupnya orang yang telah mati, serta untuk merasakan kesunyian makam.
Dengan demikian kita akan menyadari betapa fananya hidup ini. Betapa pentingnya mengisi hal-hal baik selama hidup, dan betapa singkatnya waktu yang kita miliki untuk hidup bersama dengan orang-orang yang kita kasihi.
Oleh sebab itu, Supaya pada waktu yang telah ditentukan tidak ada penyesalan. Sebagai umat percaya mari menggunakan waktu sebaik mungkin untuk kemuliaan Tuhan, dan untuk berbagi kasih dengan sesama.
Singkatnya, persekutuan umat yang percaya dalam suasana suka, memang hanya bisa kita temui dan rasakan langsung selama di dunia ini.
Akan tetapi, jikalau diantara sesama ada yang berduka, maka kita harus hadir bagi mereka untuk memberi empati. Dan berbagi kasih yang berasal dari Tuhan Yesus Kristus. Amin.
- Lampiran nas renungan
Pengkhotbah 7 ayat 2: “Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.”

Posting Komentar untuk "Pentingnya Pergi Ke Rumah Duka Dibading Ke Rumah Pesta [Pengkhotbah 7:2]"