Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alasan Manusia Disebut Ibarat Angin Dihadapan Musuh Terntaya Ini [Mazmur 144:4]

bumi diatas telapak tangan manusia

Pembaca Gembala Umat yang dikasihi Tuhan, melalui nas ini Pemazmur mengingatkan kita semua betapa rapuhnya manusia, begitu lemah, tidak berdaya, bahkan hidup di dunia sangat singkat dan tidak pasti. 

Disebutkan pula adalah adalah kesia-siaan, sekalipun dalam keadaan secara lahiriah sedang baik-baik saja. Hari-harinya seperti bayang-bayang, gelap dan cepat menghilang, bersifat sementara dan akan lenyap bersama matahari, dan ketika matahari terbenam, berubah diri menjadi bayangan masa lalu.

Lebih lanjut disebut walau telah seperti bayang-bayang yang lewat, pula tidak ada yang merasa kehilangan dia. Mengerikan sekali bukan?, dapatkah Suadara bayangkan apa yang dimaksud Pemazmur disini?.

A. Latar belakang

Dalam nas ini Raja Daud, Pemazmur, menempatkan dirinya sendiri di antara orang-orang yang sedemikian hina dan tidak berharga. Jadi dia sendiri menganalogikan dirinya seperti angin. Bukan gambaran kepada orang lain yang statunya lebih rendah. 

Bahkan dalam kelemahan dan ketidakberdayaannya, raja Daud berdoa secara khusus. Memohon pertolongan Tuhan untuk dirinya sendiri dan bangsa yang dia pimpin. Agar Tuhan menjadi Pembela bagi mereka atas para musuh. 

Sebab ia menyadari penuh di hadapan Tuhan musuh-musuh tersebut ada artinya. Dan tanpa pertolongan Tuhan, pula ia menyadari bahwa mereka tidak bakal mampu menang melawan musuh.  

Akan tetapi apa yang terjadi?. Atas perilaku mereka sendiri yang jahat, maka mereka menjadi musuh Tuhan juga. Jadi dalam hal upaya yang dapat dilakukan oleh pemazmur adalah memohon agar Tuhan mengampuni dan memberkati bangsanya. Supaya betobat dan bisa mengalahkan para musuh. 

B. Musuh Kristen masa kini

Diakui atau tidak saat ini sebagian besar orang tua atau pemimpin takut pada musuh-musuh yang bisa menyerang kapan saja. Pertanyaan, siapa sebenarnya musuh kita masa kini?. Jawabnya bisa saja diri sendiri, orang lain, bahkan teknologi.

Niat jahat yang muncul dalam benak kita bisa mengakibatkan kita jatuh dalam dosa, yang berarti kita telah mengadakan permusuhan dengan Tuhan karena tidak setia dan mengindahkan perintah-perintahNya. 

Jikalau hal tersebut terus berlangsung berarti tidak ada ubahnya kita seperti angin. Berlalu begitu saja dalam dunia ini tanpa ada arti, dan berakhir tujuan yang jelas.

Pula ketika kita takut menghadapi musuh yang berasal dari luar diri kita. Misalnya oleh orang jahat, atau teknologi yang ingin menjauhkan kita dengan Tuhan. Berarti kita tidak mengandalkan Tuhan dalam hidup kita. Dan akhirnya kita akan lenyap begitu saja bagai hembusan angin, tanpa mengadakan perlawanan rohani bersama Tuhan. 

Oleh sebab itu, marilah kita meneladani sikap keberimanan raja Daud. Dari ketidakberdayaan, kelemahan, serta kekhawatiran kita datang kepada Tuhan dalam doa. Maka kasih Tuhan yang besar akan memberikan keselamatan yang kekal bagi semua umat manusia dalam Yesus Kristus. 

Keselamatan yang dianugerahkan Tuhan itu menjadi kenyataan masa kini dan pengharapan masa depan. Sebab itu, mari kita dalam segala hal tetap memuji Tuhan dengan sepenuh hati. Kita hidup dalam damai dan kasih Tuhan. 

- Kutipan nas renungan

Mazmur 144 ayat 4: “Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.” Amin. 

Posting Komentar untuk "Alasan Manusia Disebut Ibarat Angin Dihadapan Musuh Terntaya Ini [Mazmur 144:4]"