Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alasan Hikmat Pengetahuan Duniawi Selalu Sia-sia Ternyata Ini [Pengkhotbah 8:17]

Seseorang yang berhasil memiliki hikmat pengetahuan duniawi umumnya bisa membuat dia bahagia. Misal orang yang mendapat gelar dokter, arsitek, pengacara, profesor dan seterusnya. 

Tetapi dalam hal usaha untuk mengetahui pekerjaan Allah, dengan segala apa yang dilakukanNya di bawah matahari. Apakah orang tersebut bisa mengandalkan hikmat yang dia miliki?. Tentu tidak. Walaupun berusaha dan berjerih payah dengan segala kekuatan yang ada di dunia ini, ia tidak bakal dapat menyelaminya. 

Pengakuan ini sebenarnya muncul dari penulis kitab Pengkhotbah sendiri. Mengapa demikian?. Karena sesungguhnya penulis kitab Pengkhotbah adalah raja Salomo. Tepatnya pada masa ia memasuki usia senja.  

Jadi, bisa mengerti kan mengapa ia menyinggung masalah hikmat dan pengetahuan?. Tak lain karena raja Salomo lah satu-satunya orang yang berhasil memperoleh hikmat pengetahuan dari Allah. Akan tetapi, meski demikian ia sendiri belum bisa menyelami seluruhnya pekerjaan-pekerjaan Allah.

a.  Mengaku mengetahui belum tentu memahami

Penulis kitab Pengkhotbah menyadari, dan melihat bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah. Orang yang memiliki hikmat dunia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Alah. 

Dimana ia melihat ada orang-orang benar menerima ganjaran. Padahal ganjaran tersebut seharusnya layak bagi orang fasik. Kendati dengan kebenaran mereka, lalu menderita kesusahan-kesusahan yang sangat berat, dan terus demikian untuk waktu yang lama, seolah-olah mereka harus dihukum karena suatu kefasikan yang besar. 

Di pihak lain, ia melihat ada orang-orang fasik yang menerima pahala. Padahal seyogianya hal tersebut layak untuk perbuatan orang benar. Sehingga mereka makmur secara luar biasa, seolah-olah mereka diberi upah atas suatu perbuatan baik, dan pahala itu datang dari mereka sendiri, dari Tuhan, dan dari manusia.

Berdasarkan 2 kisah terebut, kita lihat kesadaran Pengkhotbah yang tinggi. Kita tidak perlu mengaku sana-sini tentang pekerjaan Tuhan, sementara sisi lain kita tidak pernah tahu apa rencana dan alasan Tuhan melakukan pekerjaan tersebut.

Jadi lebih baik mengaku tidak mengetahui dan tidak memahami, dibanding mengaku mengetahui tapi tidak memahami. Dengan demikian upaya yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia, buang-buang energi dan waktu.

b. Kikmat pengetahuan bukan untuk mengukur pekerjaan Tuhan

Nas hari ini memberi nasehat agar kita menyadari bahwa betapapun bijaksananya kita, dan bertapapun  berhikmatnya, kita tidak akan bisa menerangkan segala sesuatu yang telah dilakukan Tuhan atas manusia, maupun terhadap mahluk dan ciptaan-ciptaan lainnya. Apalagi sampai menjelaskan secara detail cara-cara Tuhan untuk memeliharanya. 

Lebih baik seperti Ayub. Mengaku tidak perlu mengetahui segala apa yang dilkukan oleh Tuhan. Melainkan hanya mengandalkan Tuhan dan percaya, bahwa Dia melakukan segala sesuatu dengan baik dan sempurna. 

Sebab bagaimana pun, selalu banyak perkara dalam hidup ini yang  tidak bisa kita mengerti. Sekalipun kita saksiskan sendiri didepan mata, terjadi atas diri kita, terhadap orang lain atau terhadap ciptaaNya yang lain.

Oleh sebab itu jangan pakai hikmat pengetahuan untuk mengukur pekerjaan Tuhan. Tapi, cukup  percaya, mengerti dan peduli segala persoalan yang kita hadapi. Maka Dia tidak akan pernah membiarkan kita bergumul sendiri. Sebab Allah mengerti. Amin.

- Lampiran nas renungan

Pengkhotbah 8 ayat 17: “maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya.”

Posting Komentar untuk "Alasan Hikmat Pengetahuan Duniawi Selalu Sia-sia Ternyata Ini [Pengkhotbah 8:17]"