Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bentuk Asli Kasih Setia Allah Kepada Manusia Begini Sejak Dulu [Yesaya 54:10]

wujud kasih Allah kepada manusia sangat banyak

Pernahkah Saudara mengalami sakit hati?. Lalu, ketika ketemu dengan orang yang membuat Saudara sakit hati, kira-kira bagaimana perasaanmu?. Masih mau menyapa dia?.

Sakit/patah hati adalah pengalaman personal seseorang yang berkaitan dengan emosi dan ketenangan jiwa, sehingga tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, dan sangat sulit untuk berbagi dengan sesama.  

Oleh para pencipta lagu, sutradara film maupun penulis novel mengangkat tema tentang sakit/patah hati dianggap sebuah keharusan. Karena penggemar utamanya selalu realtime, dan mayoritas generasi muda. 

Misal tentang kisah percintaan dua sejoli, yang berakhir dengan penyelewengan. Pihak yang menderita patah hati adalah orang yang mendapat perlakukan dikhianati. Sementara pelaku khianat pada umumnya biasa-biasa saja.

Contoh kedua dalam konteks yang berbeda. Ketika cinta bertepuk sebelah tangan. Pihak yang sakit hati pada umumnya adalah orang yang menyampaikan cinta. Sedangkan orang yang ditaksir tidak merasakan beban apa-apa.

Pelajaran apa yang dapat kita ambl dari contoh-contoh diatas?. Jawabnya, manusia selalu memiliki kelemahan dalam hal mencintai maupun dicintai. Antara lain tidak siap ditolak, dan selalu berharap setia sampai akhir.

a. Analogi tentang kasih setia Allah

Segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak ada yang tetap. Misalnya gunung yang dianggap kokoh, dan tidak bisa goyah atau berpindah. Pada kenyataannya bisa berubah, akibat meletus, gempa bumi atau longsor. 

Selain itu akibat ulah manusia yang merambah hutan untuk kepentingan ekonomi. Juga dapat mengubah bentuk asli gunung-gunung. Jadi, pada dasarnya gunung memang tidak mudah beranjak, namun bukan berarti tidak dapat berubah atau berpindah. 

Sesungguhnya analogi diatas adalah gambaran tentang kasih setia Allah, yang tidak akan pernah berubah dan beranjak dari manusia. Sebagaimana disebutkan dalam nas hari ini melalui nabi Yesaya. 

Dalam hal eksistensi, kasih setia Allah kepada manusia juga dapat dianalogikan seperti aliran sungai. Artinya selalu mengalir/hadir dalam setiap kehidupan manusia. Tanpa ada pihak yang dapat menghalangi, atau mengalihkan aliran kasih setia tersebut dari kita. 

b. Perbandingan cinta kasih manusia dengan cinta kasih Allah

Cinta kasih di antara manusia selalu berfluktuasi. Alias berubah oleh karena situasi, kondisi bahkan tak jarang oleh karena faktor kepentingan. Maka tak heran kalau sering mengakibatkan sakit/patah hati.

Berbeda jauh dengan kasih Allah. Selain tidak pernah berubah cinta kasih Allah selalu happy ending. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengandalkan kasih setia Tuhan, dalam setiap aspek kehidupan kita. 

Seperti kita ketahui Yesus tidak mati untuk kita, agar Allah Bapa mengasihi kita. Tapi Dia mati untuk dosa-dosa kita, karena Allah Bapa sangat mengasihi kita. Esensi kasih Allah adalah murni pemberian secara cuma-cuma. Bahkan dalam wujud yang luar biasa. Yakni dengan cara mengurbankan Anak-Nya, Yesus Kristus (Yoh. 3:16). 

Maka dari itu, serahkanlah seluruh hidupmu kepada Tuhan. “Satu-satunya” yang mencintaimu dengan tulus dan tanpa pernah berubah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. 

Sedangkan cinta kasih manusia hanya sementara, sering mengecewakan dan berakhir dusta. Pun jikalau bertahan dalam jangkawa waktu yang lama, harus dengan biaya yang tinggi. Sekarang Saudara pilih yang mana?.

- Lampiran nas renungan

Yesaya 54 ayat 10: “Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman Tuhan, yang mengasihani engkau.”

Posting Komentar untuk "Bentuk Asli Kasih Setia Allah Kepada Manusia Begini Sejak Dulu [Yesaya 54:10] "