Ternyata Ini Alasan Agar Tidak Memandang Paras atau Perawakan [1 Samuel 16:7]
Ayat harian hari ini adalah bagian dari kisah pemilihan dan pengurapan Daud menjadi raja atas Israel, menggantikan raja Salomo. Yang mana proses pemilihan itu dipimpin langsung oleh Allah melalui nabi Samuel. Artinya setiap sebuah keputusan yang hendak diambil, Samuel lebih dahulu bertanya kepada Allah. Oleh sebab itu pemilihan itu tidak berjalan mulus.
Karena pemilihan itu dipimpin langsung oleh Allah, tentu Allah lah yang seharusnya menjadi penentu. Tetapi, Samuel yang diutus sebagai pelaksana sering melibatakan pandangannya sendiri terhadap orang-orang yang diseleksi.
Ia menyangka, anak sulung Isai, yaitu Eliab yang akan diurapi Allah menjadi raja. Hal itu terlihat dalam ayat 6, tatkala ia melihat Eliab dan berpikir, “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapiNya”. Sontak Tuhan membalas dengan mengatakan, “… Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya.”
Mari perhatikan frasa kata, “… Aku telah menolaknya". Menandakan bahwa saat Samuel baru saja berpikir Allah akan mengurapinya, Allah justru telah membuat satu keputusan. Yaitu menolak.
Disini Allah memberi sebuah keputusan mendahului pikiran Samuel. Karena barometer penilaian Allah adalah hati orang yang diseleksi, untuk layak diurapi atau tidak. Bukan paras, perawakan atau apa saja yang berkaitan dengan tubuh dan jasmani.
a. Kejujuran tersimpan dalam hati
Apa yang luar biasa dari hati manusia sehingga menjadi tolak ukur bagi Tuhan untuk menentukan pilihan?. Jawabanya mari perhatikan pada 2 ayat Alkitab berikut:
- Amsal 4:23; “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan,”
- Mazmur 57:8; “Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur.”
Dari 2 ayat tersebut kata kunci yang kita peroleh antara lain: 1]. Terpancar kehidupan, 2]. Hatiku siap. Artinya hanya dalam hati seseorang terdapat sebuah kejujuran. Untuk diwujudkan dalam sikap, tindakan, maupun kata-kata. Bukan sebaliknya.
Sikap seseorang yang selalu terlihat baik, perilakuknya yang sopan, bahkan tutur bicaranya yang santun, belum tentu mencerminkan isi hati yang sebenarnya. Jadi jangan terkecoh dengan tampak luar. Melainkan harus menguji dan menyelidiki isi hatinya.
Kaitannya dengan nyanyian dan mazmur sebagaimana yang tertulis dalam Mazmur 57 ayat 8. Orang yang memiliki hati tulus dan bersih selalu menaikkan puji-pujian kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Dengan kata lain tidak sandiwara, pura-pura atau asal bernyanyi.
b. Pentingnya menjalani hidup dengan hati-hati
Pembaca yang dikasihi Tuhan. Sekarang mari kira intropseksi. Bagaimana dengan hati kita saat ini?. Apakah kita sedang senang atau patah hati?. Apakah ada yang baru sakit hati, tawar hati, atau sering melakukan “lain di mulut, lain di hati”?.
Apapun yang terjadi, kita harus selalu menyirami hati kita ini dengan Firman Tuhan. Sambil menjalani hidup kita dengan hati-hati. Seperti yang diperingatkan dalam Amsal 4:23. Oleh sebab itu, latihlah diri kita untuk bermurah hati. Serta membiasakan hidup tidak “dikasih hati minta jantung.”
Karena dari hati terpancar kehidupan, maka Allah juga melihat ke situ untuk mengatahui apakah seseorang setia kepadaNya, atau tidak. Jadi sekali lagi, Tuhan tidak pernah menilai seseorang hanya dari pandangan mata jasmani. Melainkan berdasarkan pandangan mata rohani.
- Kutipan nas renungan
1 Samuel 16 ayat 7: “Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel: ”Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Amin.

Posting Komentar untuk "Ternyata Ini Alasan Agar Tidak Memandang Paras atau Perawakan [1 Samuel 16:7]"