Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Mudah Meredakan Amarah Orang Lain [Pengkhotbah 10:4]

 

Dalam hidup ini tentu setiap orang pernah marah. Baik kepada diri sendiri, kepada orang lain, kepada benda-benda, dan kepada keadaan yang sedang terjadi. Pada saat itu apa yang harus kita lakukan?.

Jawabnya ada pada renungan hari ini. Tepatnya dari kitab Pengkhotbah 10 ayat 4; “Jika amarah penguasa menimpa engkau, janganlah meninggalkan tempatmu, karena kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar”.

A. Dampak dan sebab akibat marah

Situasi marah sering membuat kita mengambil satu tindakan secara terburu-buru, akhirnya berdampak negatif bagi diri sendiri maupun kepada orang lainnya. 

Selain itu, ketidakmampuan untuk mengendalikan amarah sering pula mengakibatkan orang berbicara dengan sembarangan, cetus, kasar dan menyakitkan. 

Maka, tidak jarang kemarahan dapat menciptakan jarak antara kita dengan sesama semakin renggang. Sebab secara tidak sengaja telah menghancurkan komunikasi yang telah terjalin baik sebelumnya.

Sebagaimana disebutkan Rasul Paulus dalam Efesus. 4:26 “apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa”. Artinya jangan membiarkan amarahmu membawamu ke dalam dosa. 

Oleh sebab itu, dibutuhkan sikap dewasa yang mampu mengendalikan pikiran dan sikap. Agar tetap sabar dalam menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Kalau tidak, masalah yang semakin besar pasti timbul.

B. Cara jitu meredakan amarah orang lain

Dirangkum dari nas renungan ada 2 cara, yaitu:

  1. Sabar dan mengendalikan diri
  2. Jangan lari dari permasalahan

Pengkotbah mengingatkan pentingnya hidup dalam kesabaran dan pengendalian diri. Walau teks renungan diawali dengan sebutan “jika amarah penguasa menimpa engkau”; tentu ada latar belakang mengapa sampai timbul amarah penguasa. 

Mungkin karena ditemukan hasil kerja yang tidak seperti yang diharapkan penguasa tersebut. Atau, mungkin ada sikap rakyatnya yang tidak benar, dan/atau menolak kebijakan yang ditetapkan oleh penguasa.

Dalam situasi yang sedemikian, Pengkotbah menegaskan untuk tidak meninggalkan tempat. Sebab meninggalkan tempat adalah bentuk perlawanan/pemberontakan, serta sikap tidak menunjukkan kesetiaan. 

Maka tindakan demikian tidak akan menyelesaikan masalah, namun sesungguhnya akan menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih besar. Oleh sebab itu, ketika situasi yang sangat emosional dihimbau untuk memiliki kesabaran dan pengendalian diri. 

Hanya dengan memiliki kesabaran memberi peluang kepada seseorang untuk mengelola emosinya dengan baik. Sehingga sikap-sikap yang akan dihasilkan adalah sikap yang mencerminkan kehendak Allah.

c. Cara mengendalikan diri yang benar

Pembaca Gembala Umat yang dikasihi Tuhan, lewat renungan ini kita dituntun tentang bagaimana sikap yang benar. Ketika kita diperhadapkan dengan situasi yang tidak menyenangkan. 

Sikap kita diharapkan untuk tidak tersulut emosi. Alias jangan izinkan emosi yang mengendalikan diri. Tetapi, biarlah dalam situasi tersebut kita bisa memiliki sikap yang sabar. Sehingga kita bisa berpikir jernih dan menghasilkan respon yang positif. 

Penting diingat, ksabaran adalah salah satu dari buah-buah Roh (Gal. 5:22), yang diharapkan dapat  dihasilkan oleh semua pengikut Kristus dalam segala macam situasi (1 Tes. 5:14). 

Jadi, biarlah hidup kita dikendalikan oleh Roh Kudus. Untuk membuahkan pengendalian diri, meredakan amarah orang lain, maupun untuk mencegah kita melakukan hal-hal yang tidak mencerminkan karakter Kristus. Amin.

Posting Komentar untuk "Cara Mudah Meredakan Amarah Orang Lain [Pengkhotbah 10:4]"