Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ekspektasi Yang Sesat Dunia Tentang Raja Damai [Matius 21:1-11]

Memasuki akhir pelayanan Yesus, orang-orang semakin banyak mengetahui dan mengenalNya. Bahkan ada yang rela menjadi pengikutNya. Mereka bukan hanya orang-orang Yahudi saja, namun juga orang-orang di sekitar mereka. Khususnya dari kalangan pemerintahan Romawi

Saat itu banyak dari orang-orang Yahudi yang merindukan seorang raja pemberani, yang mampu membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Pembebasan yang dimaksud adalah secara duniawi. Antara lain dalam hal ekonomi, kekebasan, pajak dan seterusnya.

Pada saat yang bersamaan, mereka melihat Yesus. Dan, menilai bahwa Yesus pantas dijadikan menjadi raja atas mereka. Sebab Yesus mampu melakukan berbagai mujizat. Yesus mampu memberi makan lima ribu orang lebih, menyembuhkan yang sakit, menghidupkan kembali yang sudah meninggal, dan banyak hal lain yang telah dilakukannya.

Tibalah saatnya Yesus akan memasuki ibu kota Yerusalem. Dalam pikiran mereka, Yesus telah siap untuk melakukan "aksiNya".  Mrebut domunasi tentara Romawi, dan  membebaskan mereka dari penjajahan. Lalu, mereka menyambut Yesus di gerbang Yerusalem. 

Namun sebelumnya, Yesus menyuruh muridNya untuk mengambil keledai di depan mereka. Sebab Tuhan membutuhkannya sesaat, dan setelah itu dikembalikan kembali. 

Yesus masuk ke Yerusalem mengendarai keledai itu dan disambut dengan teriakan “Hosana bagi anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuha, hosana di tempat yang mahatinggi”. Mereka mengalasi jalan itu dengan pakaian mereka da nada juga yang memotong ranting-ranting pohon dan daun pohon Palma, dan disebarkan di jalan yang akan dilalui Yesus.

Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, dari kisah ini kita akan merenungkan beberapa hal penting sebagai refleksi dalam kehidupan kita saat ini, yaitu:

PERTAMA, segala yang terjadi dalam hidup kita ini memiliki proses dan perjalanan, serta maktunya masing-masing. Tuhan Yesus mengalami setiap tahap demi tahap proses itu hingga pada puncaknya. Yaitu menyelesaikan misi dengan sempurna.

Maka kita ikuti saja, dan jalani saja setiap proses yang sedang Tuhan lakukan kepada kita. Bila kita belum merasa tiba pada puncaknya, berarti Tuhan masih mempersiapkan kita agar nanti pada puncaknya kita sungguh-sungguh benar di hadapan Tuhan.

KEDUA, bila Tuhan memberikan perintah dan tugas yang akan kita lakukan, tenang saja, memang setiap tugas dan pekerjaan, baik pekerjaan atas perintah Tuhan, pasti ada resiko. 

Namun, bila Tuhan yang memberikan tugas, Tuhan sudah tahu juga apa resiko dari tugas itu dan juga sudah mempersiapkan solusi dikala kita sedang menghadapi resiko tersebut. 

Yesus memerintahkan muridNya mengambil Keledai, pasti yang punya keledai akan bertanya: apa haknya mengambil keledai tersebut. Maka sebelum dia memikirkan jawaban atau solusi, Tuhan sudah menyediakannya.

KETIGA, Yesus adalah raja Damai. Dia menaiki keledai bukan kuda layaknya kendaraan raja pada zaman itu. Maka kita juga harus sadari bahwa sebagai orang percaya Yesus, kita juga harus memancarkan damai dimanapun kita berada. 

Hindari perkelahian, permusuhan, perpecahan, dan utamakan hidup dalam damai. Bila ada orang Kristen senang berkelahi, memiliki musuh, memelihara iri dan dengki dalam hatinya, maka dia bukan orangn yang memancarkan damai layaknya Kristus.

Terakhir, sambutlah Yesus. Dan terimalah Dia sebagai Raja Damai di dalam hati dan pikiran kita. Terimalah Dia sebagai Raja Damai di dalam rumah tangga dan keluarga kita. 

Bila kita telah hidup dalam damai Tuhan, maka pancarkanlah itu kepada semua orang. Dengan demikian mereka juga melihat dan kemudian menjadi hidup di dalam Yesus bersekutu dengan kita. Amin 

Posting Komentar untuk "Ekspektasi Yang Sesat Dunia Tentang Raja Damai [Matius 21:1-11]"