Mending Pilih Menyelamatkan Hidup atau Rela Kehilangan? [Markus 8:35]
Adakan orang yang tidak ingin hidupnya lebih berarti, sempurna dan penuh makna?. Jawabnya pasti tidak ada. Sebab semua berkeinginan hidup penuh arti, sempurna, serta bermakna. Cara mewujudkannya bagaimana?.
Topik yang dibicarakan Yesus dalam nas hari ini. Paralel dengan paragraf diatas. Jika kita menginginkan, maka Yesus memberikan jalan cara mendapatkannya.
Namun sebelumnya perlu diketahui, ada 2 sikap manusia terhadap hidup. Dan, seorang hanya memiliki salah satu diantaranya. Jikalau memiliki 2 sikap, berarti pura-pura, alias tidak konsisten.
1]. Sikap pertama; Menyelamatkan hidup
Dilakukan dengan cara menimbun, mengumpulkan, menggenggam, mencengkeram, dan mencoba memenuhi segala pundi-pundi untuk kepentingan diri sendiri.
Kemudian menjaga diri sendiri, percaya hanya pada diri sendiri, mengutamakan dan mementingkan diri sendiri dalam segala situasi. Singkatnya, segala sesuatu diukur dengan keuntungan pribadi.
2]. Sikap kedua; Rela kehilangan
Rela kehilangan sinomin dengan iklas, sedia mengorbankan. Atau, tidak pernah memikirkan apa keuntungan baginya dalam segala situasi.
Namun, tetap menjalaninya dengan penuh syukur, dan bersandar pada Tuhan. Tanpa pernah merasa kuatir akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
a. Konsekuensi menyelamatkan hidup
Abraham taat kepada Allah. Pergi ke negeri yang belum diketahuinya dimana, berjalan tanpa peta, dan tidak kuatir akan apa yang akan menimpanya.
Walau sekitarnya melarang, dan memperingati supaya tidak nekad pergi. Tapi dia berteguh hati, bahwa Tuhan akan menyertai dan menyediakan segala apa yang dibutuhkan.
Demikianlah jalan hidup yang dikatakan Yesus yaitu mempercayai Allah, mentaati-Nya dan menyerahkan ke tangan Tuhan secara penuh apapun yang akan terjadi.
Dan sebagai hasilnya, juga hanya ada dua. Yaitu jika kita menyelamatkan hidup kita, menggenggamnya, mencengkeramnya, dan mengambil segala sesuatu untuk diri sendiri. Maka Yesus berkata, "kita akan kehilangannya".
Pernyataan tersebut tidak sekedar menakut-nakuti, namun prinsip hidup yang paling dasar. Sebab akan tiba saatnya kamu akan memiliki apa yang sebenarnya tidak kamu butuhkan.
Saat itu, apa yang kau coba pegang serta cengkeram. Akan tergelincir lewat jarimu, dan akan berakhir dengan kondisi tangan kosong, kekecewaan, kepalsuan dan kehampaan, serta penyesalan.
b. Konsekuensi rela kehilangan
Hasil yang kedua diperoleh, jika kita rela kehilangan. Mengiklaskan dan tidak memikirkan tentang kerugian yang harus kita tanggung. Maka Yesus berkata, "kita akan diselamatkan".
Rela kehilangan dalam konteks Kekristenan artinya mempersembahkan diri dan hidup untuk Kristus, menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus.
Sesungguhnya dengan cara tersebut kita justru bisa menyelamatkan hidup kita sendiri. Jadi kata kunci utama bukan menyelamatkan hidup sendiri, melainkan rela kehilangan/berkorban.
Dengan demikian kita akan menemukan kepuasan, kecukupan, dan kedamaian, serta makna hidup yang sesungguhnya. Yang kita temukan bukan hanya di sorga nanti, tetapi saat ini juga. Walaupun kita tidak memiliki segala sesuatu yang dimiliki oleh orang lain. Namun hidup kita sungguh kaya, berharga dan penuh kepuasan serta kebahagiaan.
Terakhir, sudahkah prinsip hidup seperti ini kita miliki?. Apakah relasi kita dengan Yesus telah mengubah prinsip, dan sikap kita terhadap diri sendiri dan cara kita hidup?.
Untuk itu, marilah menggunakan waktu dan hidup kita bukan untuk hal yang sementara. Tetapi untuk hal yang kekal sampai selamanya. Pilihannya harus rela kehilangan. Amin.
- Lampiran nas renungan
Markus 8 ayat 35: “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.” Amin

Posting Komentar untuk "Mending Pilih Menyelamatkan Hidup atau Rela Kehilangan? [Markus 8:35]"