Cara Menciptakan Identitas Agar Serupa Dengan Kristus Yesus
Menidaklanjuti artikel yang Kami posting di blog ini, tanggal 24 Oktober 2025. Dimana artikel tersebut sebenarnya adalah materi sebuah seminar yang Kami bawakan pada sebuah persekutuan muda-mudi gereja di Semarang. Dan, salah satu sub materi dari artikel tersebut yang berjudul “Menciptakan Identitas Serupa Dengan Kristus Yesus” Kami perlombakan untuk semua peserta seminar, agar mengembangkannya menjadi sebuah karya tulis yang reflektif.
Sesuai dengan batas waktu pengumpulan berkas, ada 6 orang yang antusias berpartisipasi. Diantaranya mayoritas sedang study S1, namun 1 orang sedang study S2. Maka tidak heran, kalau yang menjadi juara 1 adalah yang study S2. Mengapa demikian?. Karena pada dasarnya karya tulis ini sarat dengan pengalaman. Artinya untuk menjadi serupa dengan Kristus Yesus tidak bisa berlaku kolektif untuk orang banyak, melainkan harus secara personal.
Atas dasar itu pula kategori peniliaan tulisan Kami tekankan pada gagasan secara personal, yakni sesuai garis-garis besar yang Kami tentukan antara lain tentang berdasarkan Modal Dasar, yang terbagi menjadi 3 pokok bahasan yaitu: 1]. Agama, 2]. Marga, 3]. Didikan Orang Tua/Keluarga. Lalu, Modal Intelektual. Meliputi skill yang diperoleh baik secara formal maupun non formal, dan kreativitas. Dan, terakhir adalah Modal Spiritual atau pengalaman Rohani dengan Tuhan.
Adapun kompisisi indeks penilaian tulisan adalah sebagai berikut:
- Nilai 50 : Bilamana pembahasan hanya bersifat umum.
- Nilai 75 : Bila pembahasan menyentuh pengalaman pribadi (semi private).
- Nilai 100 : Bila pembahasan sudah mengutarakan pengalaman pribadi secara terbuka.
Lebih lengkap karya tulis pemenang pertama yang ditulis oleh Yesia Rani San Grace Purba berikut ini.
ABSTRAK
Sebagai seorang Kristen atau pengikut Kristus, kita memiliki inti panggilan hidup untuk serupa denganNya, karena kita memiliki identititas istimewa sebagai anak-anak Allah yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1 : 26-27). Jadi pribadi seorang Kristen diajarkan untuk hidup berlandaskan pengajaran akan Firman Allah dan mencerminkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Kekristenan bukan hanya sebuah status atau agama melainkan identitas yang perlu dipertanggungjawabkan, dan lebih dalam lagi sebagai sebuah hubungan pribadi dan hidup yang nyata dengan Kristus, yang perlu melibatkan iman, kasih, serta panggilan untuk mengikuti ajaran Kristus dalam segala aspek kehidupan.
Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi manusia mengalami Krisis identitas, hal ini juga terjadi kepada orang-orang percaya. Sebagai orang percaya sangat perlu bagi kita untuk memahami pentingnya mencipatakan identitas yang serupa dengan Kristus.
Artikel ini menyampaikan hal-hal yang ingin Yesus sampaikan kepada saudara-saudari sekalian melalui penulis, tentang bagaimana proses pembentukan identitas Kristiani dapat diwujudkan melalui integrasi antara nilai-nilai spiritual Kristen dengan faktor-faktor pembentuk kepribadian manusia seperti agama, suku dan marga, didikan keluarga, intelektualitas, keterampilan maupun kreativitas, dan pengalaman rohani atau spiritualitas.
Sehingga kita dapat memahami dan mengalami bahwa identitas serupa dengan Kristus bukan sekadar transformasi moral, tetapi pembaharuan total yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri manusia agar hidupnya menjadi representasi kasih dan kemuliaan Allah di dunia.
Dengan demikian, setiap pribadi dapat mengalami pembaharuan diri, pertumbuhan rohani, hidup selaras dengan teladan Yesus, dan sebagai gambar Allah yang dipulihkan dan menjadi berkat bagi lingkungannya. Jadi kata kunci pembahasan Penulis adalah: identitas, pembentukan karakter, gambaran Allah, transformasi rohani, pembaharuan total.
1. Pendahuluan
Dalam perkembangan dunia yang semakin modern, dengan kemajuan globalisasi dan teknologi digital, seringkali manusia mengalami krisis identitas sehingga mempertanyakan keberadaan dan jati dirinya. Hal ini terjadi diseluruh kalangan, termasuk dalam komunitas Kristen yang adalah pengikut Kristus.
Maka dari itu setiap individu dipaksa untuk menyesuaikan diri, berefleksi dan mengkaji berbagai perspektif tentang diri mereka sendiri. Jika tidak, maka dapat menggeser nilai-nilai Kekristenan dan menyebabkan seseorang melupakan atau meninggalkan Kristus. Jadi tidak ada lasan untuk tidak menemukan identitas sebagai seorang Kristen sejak dini.
Identitas Kristen dipengaruhi dan dibentuk dari beberapa faktor internal dan eksternal. Faktor internal terbentuk dari pertumbuhan iman yang diperoleh dari HPDT atau Hubungan Pribadi Dengan Tuhan (Galatia 2:20) serta melalui pemahaman akan Firman Tuhan yang menjadi cermin identitas dan pedoman hidup (Yakobus 1:23–25).
Faktor eksternal bersumber dari didikan keluarga, lingkungan sosial dan pergaulan, budaya dan suku atau marga, pendidikan atau intelektual, komunitas gereja, teknologi, pekerjaan, ekonomi, dan banyak hal lainnya.
Sejak awal penciptaan, identitas manusia berasal dari Allah sendiri. Alkitab menyatakan bahwa manusia diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah” (Kejadian 1:26–27). Artinya, manusia adalah gambaran Allah dan seharusnya hidup sebagai cerminan Allah. Setiap manusia diciptakan Tuhan untuk tujuan yang sangat mulia, yaitu untuk memuliakan Tuhan (Yesaya 43:7) dan memantulkan terang Allah (Matius 5:14– 16).
Sehingga, identitas Kristen berarti hidup sesuai tujuan Allah, bukan sekadar mencari jati diri duniawi. Namun, pada kenyataannya manusia lebih memilih hidup dalam hal duniawi. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian 3), gambar Allah dalam diri manusia tidak hilang total, tetapi tercemar oleh dosa.
Banyak orang Kristen mencari identitas di luar Kristus seperti di pekerjaan hingaga media sosial, dan hidup tidak lagi berlandaskan pada Firman dan Alkitab yang sebagai pedoman utama yang mengatur kehidupan umat Kristen. Di titik ini manusia akan semakin mempertanyakan diri dan keberadaannya sebagai seorang Kristen atau sebagai seorang manusia. Bahkan sekalipun seorang yang awalnya taat dapat mengalami hal ini.
Pepatah mengatakan semakin tinggi sebatang pohon, maka semakin kencang angin yang menerpanya, demikian seorang Kristen semakin tinggi iman sesorang, maka semakin besar ujian yang Allah izinkan untuk memurnikan, menguatkan, dan menyatakan kemuliaan-Nya (Yakobus 1:2–4).
Namun, seringkali manusia tidak tahan uji, tekanan hidup, pengaruh dunia, atau kekecewaan Rohani justru membuat manusia hidup dalam kekuatannya sendiri, manusia tidak lagi mencari Tuhan (Roma 3:11), manusia menyeleweng dari Firman (Roma 3:12), dan manusia tidak takut kepada Allah (Roma 3:18).
Manusia merasa dirinya adalah miliknya sendiri, dan Kristus bukan lagi yang berotoritas dalam hidupnya. Manusia mulai meragukan kasih Allah, “Apakah Tuhan masih peduli padaku?” Sehingga
muncullah keinginan untuk mencari jati diri di luar ajaran Kristus. Manusia mulai menyesuaikan diri dengan standar dunia, bukan dengan Firman. Manusia menjadi hidup mencari kebahagiaan dan kenikmatan dunia bukan lagi hidup benar di hadapan Tuhan.
Identitas rohani semaki memudar dan muncullah pemberontakan rohani dan keinginan untuk menjauh dari Tuhan. Dan inilah titik tertinggi dan terparah, dimana seorang Kristen kehilangan identitas, tidak lagi menganggap diri sebagai anak Allah, hidup dikuasai dosa, rasa bersalah, atau kepahitan yang tidak diserahkan kepada Kristus, mengalami maut di bumi (merasa hidup tanpa arah, tanpa makna, dan tanpa kasih), dan meninggalkan iman percaya. Akibatnya manusia semakit jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).
Oleh karena itu, penting bagi seorang Kristen memiliki identitas rohani yang benar dan berkenan di hadapan Allah. Agar manusia tetap dapat menyatakan kemuliaan Allah dan hidup seimbang tanpa mengorbankan iman. Bahkan ditengah kemajuan yang semakin modern, orang percaya tetap dapat membangun identitas yang mencerminkan Kristus. Seorang Kristen harus mampu memadukan semua unsur kehidupan baik secara spiritual, budaya, maupun intelektual, untuk mencerminkan dan memuliakan Kristus.
2. Kajian Teoritis / Landasan Alkitabiah
Identitas Kristen bukan semata teori yang disampaikan oleh pemuka-pemuka atau para ahli kekristenan. Allah sendiri berbicara tentang hal ini melalui para nabi, imam, rasul, dan para penulis kitab suci di bawah ilham dan bimbingan ilahi Allah, yang saat ini dikenal sebagai Alkitab. Alkitab menyatakan bahwa setiap orang percaya diberi identitas istimewa yang langsung Allah berikan.
2.1 Identitas diciptakan segambar dan serupa dengan Allah
Dalam perjanjian lama, identitas bermula dari penciptaan. Sejak awal, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei) yang disuratkan pada Kejadian 1:26–27. Secara teologis dalam bahasa Ibrani segambar dan serupa disebutkan dengan tselm dan demuth. Tselm berarti gambar, bentuk, representasi, bayangan, patung kecil yang mengandung makna bahwa manusia mewakili Allah di bumi bukan secara fisik, tapi secara fungsional dan moral (gambaran, perwakilan, atau representasi Allah).
Tselm menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk memantulkan karakter dan otoritas Allah. Hal ini menunjukkan bahwa identitas awal manusia adalah untuk mencerminkan karakter Allah di bumi, menjadi teladan, dan dipanggil untuk menjalankan visi misi Allah di dunia untuk kemuliaanNya.
Demuth berarti kemiripan, keserupaan, bentuk yang menyerupai, yang menunjukkan kesamaan sifat dan karakter meliputi kemampuan untuk berpikir, mengasihi, berkehendak, dan berelasi seperti
Allah. Dalam terjemahan Yunani, “Segambar” disebut εἰκών (eikōn) diartikan sebagai gambar, rupa, representasi, ikon atau dalam artian lain sebagai identitas dan fungsi sebagai gambar Allah. Dalam perjanjian baru, kata ini dipakai juga untuk Yesus: “Ia adalah gambar (eikōn) Allah yang tidak kelihatan” (Kolose 1:15).
Hal ini Menunjukkan bahwa manusia diciptakan sebagai refleksi Allah, dan Kristus adalah “gambar sempurna” yang memulihkan citra Allah yang rusak dalam manusia. Sementara kata “Serupa” disebut ὁμοίωσις (homoiōsis), yang berarti kemiripan, keserupaan, menjadi seperti, menunjukkan panggilan dan proses pertumbuhan rohani menuju keserupaan dengan Allah dalam karakter dan kekudusan. Dalam teologi Kristen, ini sering diartikan sebagai proses menjadi serupa Kristus (sanctification).
Ini menjadi dasar bahwa setiap orang Kristen memiliki identitas ilahi yang berharga dan mulia. Sehingga manusia perlu menyadari bahwa martabat dan nilai manusia berasal dari Allah, bukan dari pencapaian pribadi. Lalu identitas apa yang ada pada Allah?.
Identitas Allah dapat kita pahami melalui pengenalan akan FirmanNya di dalam Alkitab Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:16), taat (Yohanes 14:31), Lemah lembut dan rendah hati (Matius 11:29-30), kudus (Imamat 11:44), benar (Roma 3:4), adil (Ulangan 32:4), baik (Mazmur 100:5), setia (Ulangan 7:9), penuh hikmat atau bijaksana (Roma 16:27), Berkuasa dan Bertanggung Jawab (Kejadian 1:28), penuh kasih dan pengampunan (Kolose 3:13–14), mengasihi Kebenaran dan Hidup dalam Terang (Efesus 5:8–9) dan lainnya.
Oleh karena itu, manusia memiliki atribut seperti kekuasaan, kemampuan berpikir, merasa, berkehendak, dan moralitas yang menyerupai sifat Tuhan. Ini membedakan manusia dari ciptaan lain, meskipun manusia hanya "serupa" dan bukan "identik" dengan Allah.
2.2. Identitas lama vs identitas baru dalam Kristus
Sejatinya manusia sudah diberikan identintas yang serupa dengan Allah, tetapi identititas itu tidak muncul karena adanya dosa dalam pribadi kita. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa yang diawali oleh Adam dan Hawa (Kejadian 3), manusia terpisah dari Allah dan hidupnya mengarah selalu pada dosa, manusia mulai kehilangan arah dan jadi diri sejatinya.
Dosa telah mengubah aspek rupa, gambaran akan Allah dalam diri manusia sudah rusak, tetapi tidak menghancurkan imago dei (gambar Allah), artinya identitas itu tidak sepenuhya hilang, melainkan tercemar akibat dari dosa itu sendiri, sehingga masih memungkinkan adanya kebaikan, kehendak bebas, dan kesadaran akan Tuhan.
Allah maha pengasih tidak memutuskan ikatan dengan manusia dan tidak sesekali mencabut identitas kita sebagai ciptaanNya. Allah sendiri memulihkan identitas kita melalui Yesus Kristus, Ia rela mengorbankan PuteraNya yang tunggal, sehingga setiap orang percaya tidak binasa (Yohanes 3:16).
Karya penebusan dan keselamatan ini merupakan kasih karunia dan anugerah yang Allah berikan, seperti sebuah tiket yang dapat kita gunakan untuk dapat kembali kepada identitas semula, dan menghapus jurang pemisah kita dengan Allah.
Jadi untuk menampilkan kembali identitas Kristus, kita harus mau meminta ampun akan dosa-dosa, dan ketika meminta ampun maka yang harus timbul adalah pertobatan, meninggalkan kebiasaan lama atau dosa.
Sehingga barang siapa yang berdosa, mau mengakui ia adalah orang berdosa, meminta pengampunan dari Yesus, dan mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat, ia sudah menerima keselamatan itu dan menjadi ciptaan baru. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Korintus 5:17).”
Dengan demikian di dalam Kristus, kita bukan lagi “orang berdosa yang hilang,” melainkan anak yang dipulihkan dan diutus untuk hidup bagi kemuliaan Allah. Identitas itu sudah dikembalikan, sehingga kita perlu menyadari kembali bahwa hidup bukan milik sendiri melainkan milik Kristus, yang sudah menebus kita.
Perlu menyadari, bahwa identitas ditetapkan oleh Kasih Karunia, bukan oleh dunia. Dunia mendefinisikan identitas dari hal luar seperti status, harta, karier, atau penampilan. Tetapi Allah menetapkan identitas kita berdasarkan kasih karunia, bukan pencapaian.
Kita adalah bangsa pilihan Allah, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri (1 Petrus 2:9). Jadi saat kita sudah menerima Kristus, kita bukan siapa yang dunia katakan, tapi siapa yang Allah katakan tentang kita. Kita adalah anak-Nya, diciptakan untuk memancarkan terang-Nya. Kita hidup sesuai standarNya, bukan lagi sesuai standar manusia atau dunia.
Bukan hanya berhenti disitu, pertobatan yang kita lakukan perlu ditindaklanjuti dan dikejar dengan sungguh-sungguh melakukannya dengan tindakan secara nyata, sehingga identitas yang sudah kita terima kembali terwujud dalam Hidup yang Serupa dengan Kristus, sebab menjadi Kristen bukan sekadar menyandang nama “orang percaya,” tetapi menghidupi dan mencerminkan identitas Kristus dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Identitas Kristen sejati terlihat ketika seseorang mampu mengasihi seperti Kristus, mengampuni seperti Kristus, dan melayani seperti Kristus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Identitas Kristen berarti mengetahui dan menghidupi kenyataan bahwa kita adalah ciptaan Allah, yang ditebus oleh Kristus, dan hidup oleh Roh Kudus karena iman di dalam Kristus Yesus (Galatia 3:26), sehingga kita hidup sebagai anak Allah yang mencerminkan Kristus.
3. Pembahasan
Di tengah dunia modern yang penuh individualisme, relativisme moral, dan tekanan sosial, menjadi gambar dan rupa Allah berarti membawa nilai-nilai Kerajaan Allah ke dalam realitas sehari-hari. Identitas Kristiani perlu dipegang teguh dalam mengikuti setiap perubahan dan perkembangan
3.1 Di Zaman Modern: Menjadi Eikōn dan Homoiōsis Allah dalam Konteks Kekinian
Di tengah zaman modern yang menonjolkan self-identity dan kebebasan tanpa batas, Alkitab menegaskan bahwa identitas sejati hanya ditemukan dalam Kristus, bukan dalam pencapaian duniawi. Beragam penawaran duniawi datang menggoyahkan identitas seorang Kristen. Sehingga mengalami krisis rohani atau kondisi di mana seorang Kristen merasa bingung dan ragu akan jati dirinya dalam iman
Seringkali pula diperparah oleh karena tidak yakin tentang siapa dirinya di hadapan Tuhan, apa tujuan hidupnya, dan bagaimana seharusnya menjalani kehidupan sebagai pengikut Kristus. Maka ditengah perkembangan zaman ini Tuhan juga mengijinkan berbagai ujian atau tangangan untuk menguatkan iman dan menyempurnakan identitas orang percaya. Setiap aspek dapat Tuhan pakai untuk memperbaharui manusia.
Berikut adalah diagram antara Aspek, Tantangan Modern, dan Cara Mempertahankan Identitas seorang Kristen sebagai gambar dan rupa Allah.
- Spiritualitas ---> Kehidupan rohani dangkal, sibuk, sekuler ---> Menjaga relasi pribadi dengan Allah melalui doa, firman, dan ibadah
- Moralitas ---> Normalisasi dosa, etika kabur ---> Hidup dalam kebenaran, kejujuran, dan kasih yang Alkitabiah
- Relasi Sosial ---> Egoisme, konflik digital, kehilangan empati ---> Mewujudkan kasih dan pengampunan Kristus dalam komunitas
- Teknologi & Media ---> Citra palsu, kesombongan diri ---> Menggunakan teknologi untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk kepentingan diri sendiri atau untuk eksistensi
- Panggilan Hidup ---> Materialisme, orientasi karier ---> Melihat pekerjaan dan talenta sebagai sarana pelayanan dan kesaksian
Di masa modern, dunia membentuk manusia melalui sistem nilai yang materialistik, hedonistik, dan relativistik. Identitas Kristen justru menuntut keberanian untuk berbeda bukan dalam penampilan luar, tetapi dalam prinsip hidup yang berdasar pada kebenaran Firman.
Seorang kristen harus siap untuk mengutamakan kasih daripada kebencian, menjunjung kebenaran meski tidak populer, dan menghidupi kekudusan meski dunia menormalisasi dosa. Tentu ini bukanlah suatu tindakan yang mudah, namun Allah akan menuntun dan memampukan kita dalam merealisasikannya.
3.2 Prinsip Alkitab tentang transformasi hidup dan pembentukan karakter seperti Kristus
Transformasi hidup dan pembentukan karakter seperti Kristus merupakan inti dari kehidupan Kristen. Alkitab menegaskan bahwa keselamatan tidak berhenti pada pengampunan dosa, tetapi berlanjut dalam proses perubahan yang berkesinambungan menuju keserupaan dengan Kristus.
Proses ini melibatkan pembaruan batin, pertumbuhan rohani, dan manifestasi nyata dari karakter ilahi dalam kehidupan sehari-hari. tujuan akhir kehidupan orang percaya adalah menjadi serupa dengan Kristus (homoiōsis Christou).
Transformasi hidup bukan sekadar perubahan perilaku moral, tetapi pembaruan total yang dikerjakan oleh Roh Kudus agar manusia mencerminkan gambar (eikōn) Allah yang sejati.Transformasi ini mencakup perubahan dari dosa menuju kekudusan, ego menuju kasih, dan duniawi menuju ilahi. Paulus menggambarkan hal ini sebagai “ciptaan baru”.
Transformasi hidup menurut Alkitab berakar pada pembaharuan pikiran (metanoia). Rasul Paulus menasihatkan agar kita hidup berbeda dari dunia (Nonkonformitas). “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).
Ayat ini menekankan prinsip bahwa perubahan sejati dimulai dari dalam diri. Pikiran yang diperbaharui oleh Firman Allah akan melahirkan tindakan yang benar. Firman Tuhan menjadi standar moral dan sumber kebenaran yang menuntun proses pembentukan karakter.
3.3 Peran Roh Kudus dalam proses pembaruan diri
Hidup dalam Kristus sebagai Eikōn yang diperbarui dan yang mengalami transformasi, bukan hasil usaha manusia semata, melainkan sinergi antara ketaatan manusia dan karya Roh Kudus yang menanamkan nilai-nilai Kristus ke dalam batin.
Roh Kudus memiliki peranan utama dalam menuntun orang percaya menuju keserupaan dengan Kristus. Dalam 2 Korintus 3:18, Paulus menulis: “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datang dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya.”
Ayat ini menggambarkan proses spiritual metamorphosis, yakni perubahan bertahap yang dilakukan oleh Roh Kudus sehingga karakter Kristus tercermin melalui kehidupan orang percaya. Roh Kudus menumbuhkan buah-buah Roh (Galatia 5:22–23): kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Buah-buah ini adalah indikator karakter Kristus yang tumbuh dalam diri seseorang yang menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada tuntunan Roh Kudus.
Alkitab memaparkan Yesus Kristus sebagai teladan sempurna dalam karakter dan tindakan. Dalam Filipi 2:5–8, Paulus menasihatkan: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Karakter Kristus tercermin dalam kerendahan hati, ketaatan kepada Bapa, kasih tanpa pamrih, dan kesediaan berkorban.
Prinsip ini menjadi dasar etika Kristen: meniru Yesus bukan hanya secara lahiriah, melainkan dalam sikap hati dan motivasi terdalam. Meneladani Kristus berarti menghidupi kasih yang rela memberi diri bagi sesama, serta mengutamakan kehendak Allah di atas keinginan pribadi.
3.4 Proses Pembentukan dan Pertumbuhan Identitas Kristen/Membangun Iman Kristen
Membentuk dan membangun iman Kristen dapat dimulai melalui Kenosis. Yesus menyampaikan hal ini melalui Filipi 2 : 6-8. Kenosis dalam Kekristenan adalah istilah teologis yang berasal dari bahasa Yunani, "kénōsis", yang berarti "pengosongan diri". Ini merujuk pada tindakan Yesus Kristus saat inkarnasi, di mana Ia mengosongkan diri dari kemuliaan ilahi-Nya untuk mengambil rupa seorang hamba dan hidup sebagai manusia untuk tujuan penebusan.
Konsep ini secara khusus dijelaskan dalam kitab Filipi, di mana Paulus mengacu pada Yesus yang mengosongkan diri-Nya dan menaati kehendak Allah sampai mati di kayu salib. Hal ini menjadi
langkah yang bisa kita terapkan sebagai seorang pengikut Kristus dalam proses membangun identitas Kristiani, untuk terlebih dahulu mengosongkan diri dan melepaskan keakuan, menerapkan kenosis menjadi pola hidup kasih dan kerendahan hati dan pengutaraan kehendak Tuhan di atas ego pribadi.
Pengalaman kenosis mendorong pertumbuhan karakter yang mirip Kristus, terutama dalam kerendahan hati, pengampunan, dan kesetiaan pada panggilan iman dan partisipasi dalam misi-Nya di dunia. Pertumbuhan identitas Kristen setelah kenosis fokus pada pembentukan diri yang semakin menyerupai Kristus dalam identitas, misi, dan relasi dengan sesama.
Oleh karena itu perlu untuk membangun hubungan yang lebih erat dengan Allah melalui peneguhan iman, serta dibutuhkan pengenalan identitas melalui alkitabiah, yakni memahami siapa kita di dalam Kristus, sebagai anak-anak Allah, anggota tubuh Kristus, dan teladan kasih-Nya. Hal ini membentuk dasar bagi bagaimana memilih hidup secara konsisten sesuai panggilan iman.
Pengenalan alkitabiah ini dapat ditingkatkan dengan disiplin rohani yaitu membaca Alkitab secara teratur untuk memperdalam pemahaman identitas di dalam Kristus dan merenungkan bagaimana Kristus menjadi teladan dan poros hidup kita. Selain itu, perlu untuk rutin berdoa dan penyerahan diri.
Doa sebagai wadah memperbarui tujuan hidup, menguatkan hubungan dengan Allah, dan meneguhkan identitas. Pertumbuhan identitas ini juga dapat diperoleh melalui Hubungan Pribadi Dengan Sesama (HPDS) yaitu melalui pelayanan dan tindakan kasih. Kita dapat menghayati identitas melalui tindakan konkret, yaitu melayani sesama tanpa pamrih, memperkuat relasi antarkelompok, dan membangun jembatan kasih.
Hal ini dapat kita terapkan pada komunitas, gereja, maupun dalam masyarakat. Dalam proses pertumbuhan tersebut, baiklah untuk mengevaluasi diri secara berkala, membuat refleksi pribadi tentang pertumbuhan identitas dan kedekatan dengan Kristus, integritas moral, dan konsistensi dalam hidup sehari-hari.
3.5 Proses Disiplin Rohani dan Komunitas Iman
Transformasi hidup tidak terjadi secara instan, melainkan melalui disiplin rohani yang konsisten melalui doa, pembacaan Alkitab, ibadah, pelayanan, dan persekutuan dengan sesama orang percaya seperti yang sudah ditekankan sebelumnya.
Disiplin rohani akan mendorong pertumbuhan iman dan ketaatan kepada Firman, serta memperdalam relasi dengan Allah dan memperhalus karakter seseorang agar semakin menyerupai Kristus. Oleh sebab itu mintalah tuntunan Roh Kudus agar mengingatkan kita untuk tetap konsisten menjalakan disiplin rohani.
Unsur lain yang tak kalah penting adalah komunitas iman. Antara lain dengan membentuk persekutuan doa, kelompok pemuridan atau Kelompok Tumbuh Bersama (KTB). Maka dengan cara-cara tersebut terjadi koreksi dan dorongan antar anggota tubuh Kristus, sehingga dibentuk dalam kasih dan kerendahan hati (Ibrani 10:24–25).
3.6 Korelasi antara Identitas Kristen dan Aspek Modal kehidupan Orang Percaya
Segambar dan serupa dengan Kristus bukan berarti kita menjadi kaku terhadap aspek kehidupan di sekitar, kita diajarkan untuk tetap mengedepankan modal kehidupan yang diantaranya modal dasar, modal intelektual, dan modal spiritual. Ketiga hal ini menjadi fondasi dan sarana untuk membentuk dan memperkuat identitas sebagai orang percaya yang utuh.
I. Modal Dasar
Modal dasar mengacu pada nilai-nilai awal ataupun landasan etika yang membentuk pribadi seseorang, atau dengan kata lain merupakan nilai-nilai yang kita adopsi seperti agama, ajaran keluarga, serta latar budaya dan suku.
Dalam konteks Kristen, modal dasar ini bersumber dari pengenalan akan Allah dan Firman-Nya. Sejak dini, seorang Kristen sudah dididik dalam Firman sehingga pada masa tuanya, ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu (Amsal 22:6). Modal dasar ini menumbuhkan kesadaran akan panggilan hidup sebagai anak Allah.
a. Agama dan Gereja
Dalam kekristenan, agama berfungsi sebagai dasar pengakuan iman. Agama Kristen menjadi wadah untuk memahami karya keselamatan Kristus. Kita difokuskan bukan sekadar ritual, tapi relasi pribadi dengan Yesus. Identitas Kristiani tampak dari iman yang hidup, kasih terhadap sesama, dan pengampunan seperti Kristus.
Kristen menekankan bahwa hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku (Galatia 2:20). Sehingga saat sudah memutuskan untuk menyandang status Kristen, maka Kristus adalah sebagai landasan hidup. Setiap orang Kristen diberikan tugas panggilan yang disebut dengan Tri Tugas Panggilan Gereja, yaitu bersekutu (koinonia), bersaksi (marturia), dan melayani (diakonia).
Bersekutu (koinonia) berbicara tentang hidup dalam kebersamaan dan kesatuan tubuh Kristus. Ini menegaskan bahwa identitas Kristen bukan identitas yang individualistis, melainkan terikat dalam persekutuan kasih dan iman kepada Kristus seperti pada jemaat mula-mula yang tertulis pada Kisah Para Rasul 2:42. Dalam teologi Kristen, persekutuan menjadi modal dasar spiritual dan sosial untuk membentuk identitas Kristiani. Melalui persekutuan, seseorang belajar mengasihi, saling menolong, dan hidup dalam kasih Allah.
Pelayanan (diakonia) dilandaskan pada Markus 10:45, yang berisikan “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”Diakonia sebagai wujud nyata kasih Allah dalam tindakan melayani sesama tanpa pamrih.
Pelayanan mencerminkan modal etis dan spiritual dalam identitas Kristen. Seorang Kristen yang melayani meneladani Kristus yang penuh kasih, rendah hati, dan rela berkorban. Pelayanan memperlihatkan karakter Yesus di dunia modern, menjadi saksi hidup bahwa kasih Allah nyata melalui tindakan.
Pelayanan bukan hanya di dalam gereja melainkan dalam segala aspek kehidupan (pelayanan holistik). Orang percaya dan gereja diajarkan untuk melayani sesama terutama bagi orang-orang atau kaum yang membutuhkan (Matius 25:35–40), gereja tidak hanya sebagai center class dimana orang-orang beriman hanya terlihat megah digedung, uang yang berkecukupan, kehidupan sejahtera, atau kegiatan-kegiatan ritual atau rutinitas ibadah semata, tetapi justru menunjukkan keberpihakan kepada orang-orang susah, orang-orang terpinggirkan, orang-orang sakit, orang-orang tertindas dan lainnya.
Orang percaya dan gereja tidak hanya memberikan bantuan karitatif, tetapi ikut berjuang dalam melayani setiap orang. Ini adalah bentuk nyata dari iman Kristen dalam kehidupan sosial.
Seorang Kristen juga diajarkan untuk memberikan kesaksian (marturia) tentang kasih dan kebenaran Allah melalui perkataan, perilaku, dan menghidupi dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah panggilan iman untuk menyatakan identitas Kristen kepada dunia.
Kesaksian ini bisa kita sampaikan melalui pengalaman perjumpaan kita dengan Kristus, hubungan yang sudah kita jalin dengan Kristus, dan pemahaman akan FirmanNya.
Di dalam Alkitab, tugas marturia ini disebut pada Matius 28:19–20 sebagai Amanat Agung yang Yesus sampaikan sebelum Ia naik ke surga, yaitu untuk memberitakan injil dan menjadikan semua bangsa menjadi muridNya, dan di dalam Kisah Para Rasul 1:8 yang menyatakan bahwa setiap orang percaya menerima kuasa melalui Roh Kudus untuk menjadi saksi di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.
Kesaksian iman ini menjadi modal moral dan rohani yang memperkuat identitas Kristen. Seorang Kristen sejati dikenal bukan hanya karena kepercayaannya, tetapi juga karena cara hidupnya yang mencerminkan Kristus.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa agama atau kekristenan dan peran gereja sangat berpengaruh besar sebagai modal dasar pembentukan dan pertumbuhan identitas sorang Kristen. Sebab agama Kristen dan gereja tidak hanya berbicara tentang sistem kepercayaan. Tetapi gaya hidup yang berpusat pada Kristus (Kristosentris), dan inilah yang menjadi dasar pendukung untuk mengenal Allah yang sejati, memahami nilai-nilai kasih, pengampunan, dan kebenaran, serta hidup dalam persekutuan dengan Allah dan sesama.
b. Suku dan Marga
Suku dan Marga merupakan identitas dan warisan budaya yang ditebus oleh Kristus. Allah menyatakan bahwa dari satu orang Ia dapat menjadikan semua bangsa dan umat manusia mendiami seluruh muka bumi dengan memberikan musim dan batasannya masing-masing (Kisah Para Rasul 17:26). Setiap suku diciptakan menurut gambar Allah, dengan budaya, bahasa, dan tradisi yang unik.
Keberagaman ini adalah karunia Allah, suku dan marga membentuk jati diri sosial, tetapi tidak boleh menjadi sumber kesombongan atau perpecahan. Setiap suku umunya memiliki prinsip saling menghargai, menghormati, merayakan dan menghargai perbedaan, dan mengedepankan budaya di tengah-tengah kepelbagaian.
Dalam Kristus, semua suku dan bangsa dipersatukan. Menghidupi nilai-nilai budaya yang selaras dengan Injil perlu dilakukan sebagai bentuk kesatuan tubuh Kristus sehingga mendorong pertumbuhan identitas, hal ini dapat dilakukam melalui menghargai setiap golongan atau etnis. “Tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28)
Kesukuan menjadi salah satu aspek yang memengaruhi pertumbuhan identitas. Hal ini dapat dilihat melalui banyaknya gereja berbasis kesukuan seperti GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun), HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), GKBP (Gereja Batak Karo Protestan), GKJ (Gereja Kristen Jawa), Gereja Kalimantan Evangelis (GKE), Gereja Kristen Sumba (GKS), dan lainnya.
Beberapa orang dalam suku tertentu awalnya memulai ibadah dengan berkumpul dua atau tiga orang, lalu mengajak komunitas sukunya dalam beribadah, dan akhirnya atas tuntunan Roh Kudus dan kesatuan yang Tuhan berikan membentuk suatu gereja kesukuan.
Gereja-gereja kesukuan ini menghimpu orang-orang yang akhirnya menjadi orang percaya dan menerima identitas Kristiani. Salah satu contoh yaitu GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun) yaitu gereja kesukuan batak Simalungun yang dirintis oleh misionaris Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), melalui sekelompok penginjil yang dipimpin oleh Pendeta August Theis ke tanah Simalungun yang awalnya tiba di Pematang Raya untuk menyebarkan Injil kepada suku Simalungun, yang diresmikan pada 2 September 1903.
GKPS awalnya bernama HKBPS (Huria Kristen Batak Protestan Simalungun) dan merupakan pemekaran dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), dikarenakan perbedaan budaya dan bahasa antara etnis Simalungun dan Batak Toba. Suku Simalungun melalui GKPS berusaha untuk meningkatkan upayaupaya penginjilan di Simalungun untuk memperluas dan menambah kuantitas dan kualitas orang-orang percaya melalui penginjilan yang terus berlanjut.
Dapat dilihat bahwa GKPS dan gereja suku lainnya menolong umat menghayati iman Kristennya tanpa kehilangan jati diri atau identitas sukunya. Identitas suku dan identitas Kristen justru dapat dibaurkan, gereja dan identitas Kristen menyucikan dan memperbarui budaya sesuai dengan firman Allah.
Oleh karena itu, poin suku ini berubungan erat dengan poin sebelumnya yaitu agama dan gereja. Suku menjadi modal dasar budaya dan sosial, seperti bahasa, kebersamaan, dan nilai-nilai luhur, sementara agama dan gereja sebagai wadah pembentukan iman yang menghormati budaya lokal sambil mengajarkan nilai-nilai Kristus.
c. Didikan Orang Tua/Keluarga
Keluarga adalah tempat pertama dan utama belajar kasih, disiplin, iman, pengenalan akan Allah, dan membangun karakter Kristiani sehingga disebut juga sebagai “gereja rumah tangga” (domestic church). Orang tua berperan sebagai teladan dalam menanamkan nilai-nilai Kristus baik dalam berdoa, kerendahan hati, tanggung jawab, dan kerja keras. Itulah mengapa orang tua sering disebut sebagai Allah yang terlihat.
Identitas Kristus dipupuk melalui teladan keluarga yang hidup dalam kasih dan kebenaran.“Didiklah anakmu di jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu” (Amsal 22:6).
Dalam keluarga, terbentuk tiga modal dasar identitas Kristen yakni Modal Spiritual, modal moral, dan modal sosial. Modal spiritual merupakan pendalaman iman, melalui doa bersama, pembacaan Alkitab, dan ibadah keluarga, sehingga setiap anggota keluarga mengenal kasih dan kehendak Allah.
Iman yang hidup dalam keluarga melahirkan identitas Kristen yang berakar kuat pada hubungan pribadi dengan Tuhan (2 Timotius 1:5). Modal moral, melingkupi nilai-nilai kasih, kesetiaan, kejujuran, dan tanggung jawab ditanamkan. Identitas Kristen tidak hanya soal kepercayaan, tetapi juga karakter yang mencerminkan Kristus (Filipi 2:5). Sehingga dari keluarglah etika Kristen terbentuk dan menjadi pedoman hidup.
Modal Sosial, terbentuk melalui hubungan antaranggota keluarga, dengan cara belajar saling menghormati, mengasihi, dan mengampuni (Yohanes 13:34–35). Ketiga modal tersebut harus dibangun bersama dan Allahlah yang menjadi poros atau kepalaNya. Sehingga perlu dipahami bahwa, setiap anggota keluarga memiliki peran masing-masing dalam menunjukkan karakter Kristus.
Tidak hanya orang tua, anak memiliki peran untuk belajar mengasihi dan menghormati (Hukum Taurat ke-5; Keluaran 20:12). Ketika keluarga sudah memahami dan menjalankan perannya masing-masing, iman menjadi nyata dan hidup. Dengan demikian, keluarga kristen adalah cerminan kecil Kerajaan Allah, sehingga setiap orang yang melihatnya merasakan kehadiran di mana kasih, iman, dan pengharapan diwujudkan.
II. Modal Intelektual
Setiap orang percaya diciptakan unik dan menerima pengetahuan, kemampuan, kreativitas, serta karunia yang berbeda-beda, namun semuanya berasal dari Allah. Karunia itu diberikan bukan untuk kebanggaan pribadi, melainkan untuk melayani dan membangun tubuh Kristus, sertanya menyatakan Kristus di dalam kehidupan (1 Korintus 12:4–6; Amsal 2:6).
Bagi Tuhan, tidak ada karunia yang kecil atau tidak penting di hadapanNya. Allah memberikan kemampuan dan fungsi yang berbeda-beda kepada setiap orang agar semua dapat saling melengkapi dalam pelayanan dan kehidupan bersama, dan hendaklah menggunakan pemberian tersebut sesuai fungsinya dan untuk kebenaran dan kemuliaan Tuhan (Roma 12:6–8).
Setiap manusia, diberi keistimewaan menggunakan Akal Budi. Untuk menjadi serupa dengan Kristus juga berarti berpikir dengan bijak dan benar. Ilmu pengetahuan bukan musuh iman, melainkan sarana untuk memahami karya Tuhan dalam ciptaan. Orang Kristen harus menunjukkan integritas dan kebijaksanaan dalam bidang akademik dan profesional. (Matius 22:37).
Kemampuan dan karir yang Tuhan berikan perlu untuk kita pergunakan dalam menolong sesama dan menjadi berkat bagi setiap orang dalam menghidupi identitas Kristiani. Seorang teknisi atau engineer Kristen memiliki keahlian teknis baik dalam merancang, membangun, menganalisis, memperbaiki, atau menciptakan teknologi.
Lalu apa yang membedakan engineer Kristen dengan engineer lainnya? Yaitu tujuan dan motivasinya. Contohnya, seorang insinyur lingkungan bekerja bukan hanya demi efisiensi proyek, tapi karena ia percaya bahwa bumi adalah ciptaan Allah yang harus dijaga (Kejadian 2:15). Ia merancang sistem pengolahan limbah dengan tanggung jawab moral dan spiritual, hal ini bukan hanya tuntutan profesi naman sebagai bentuk ibadahnya kepada Allah.
Seorang engineer juga dituntut untuk kreatif dalam membawa inovasi atau pembaharuan. Kreativitas seorang Kristen adalah wujud dari pikiran yang diperbarui oleh Roh Kudus (Roma 12:2). Sehingga setiap inovasi yang diciptakan, dengan segala ide kreatif bukan untuk kesombongan diri, tetapi untuk menyatakan kasih Allah dalam solusi nyata bagi sesama.
Seorang hakim atau pengacara dan orang-orang yang bekerja di bidang hukum, membantu memperjuangkan orang-orang yang tidak diperlakukan adil, seperti beberapa buruh yang mungkin bekerja hanya mengandalkan kekuatan fisik dan tidak memiliki skill maupun sertifikasi, dan tidak diberi upah atau hak yang layak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan, untuk mendapatkan keadilan melalui kebenaran dan kemampuan atau ilmu yang dimiliki.
Dalam hal ini dapat kita lihat, bahwa Identitas seorang Kristen harus terlihat dalam keseharian maupun dalam pekerjaan atau ladang pelayanan yang Tuhan berikan. Jangan sampai seorang Kristen dikaruniakan kemampuan, tapi hanya untuk menjalankan profesi atau mengambil kepentingan atau keuntungan sendiri, tanpa ada hal-hal yang berpihak pada kebutuhan bersama atau tidak mencerminkan ajaran yang Tuhan sudah contohkan.
Jadilah seorang agent of change, pembawa perubahan melaui karunia yang Tuhan berikan, dan jadilah teladan yang berbuat sepenuh hati, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan.” (Kolose 3:23)
III. Modal Spiritual Kristen
Modal spiritual adalah kekuatan rohani yang bersumber dari iman, nilai, dan hubungan pribadi dengan Allah dan merupakan pondasi utama yang menuntun seseorang untuk hidup sesuai dengan identitasnya sebagai anak Allah (Yohanes 1:12).
Manusia dapat mendalami modal spiritual yang didapatkan melalui iman, doa, firman, relasi dengan Allah. Dalam konteks identitas Kristen, modal spiritual bukan sekadar pengetahuan tentang agama, tetapi mencakup iman yang hidup, hubungan pribadi dengan Kristus, dan pengalaman rohani yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak seseorang sebagai pengikut Kristus. Pengalaman rohani sebagain ukti nyata perjumpaan dengan Kristus.
Identitas serupa dengan Kristus dibentuk dari perjalanan iman dan pengalaman pribadi dengan Tuhan. Tuhan mengijinkan ujian hidup, penderitaan, dan mujizat menjadi alat pembentukan rohani. Melalui pengalaman rohani, seseorang semakin peka terhadap kehendak Allah dan hidup dalam kasih yang tulus.
Sementara modal spiritual memberi kekuatan untuk tetap setia, sabar, dan tekun di tengah tantangan hidup. Sehingga identitas Kristen tampak dalam cara seseorang mengandalkan Tuhan. Pengalaman rohani akan mendukung pertumbuhan rohani dan menuntun kita untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru di dalam Kristus.
Setiap orang percaya yang sungguh menerima Yesus dalam hidupnya, akan mengalami transformasi diri (Kolose 3:10). Transformasi sejati tidak lahir dari usaha manusia, tetapi dari karya Roh Kudus dalam hati yang terbuka.
Modal spiritual menggerakkan manusia untuk meninggalkan dosa, memperbaharui pikiran, dan hidup sesuai kehendak Tuhan, sehingga transformasi itu nyata, menjadikan kita sebagai ciptaan baru dan pribadi dengan karakter yang serupa dengan Kristus. Sehingga kita bukanlah lagi hamba dosa, melainkan hamba Allah.
Identitas kekristenan kita membuat kita bertumbuh dan berbuah seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, yaitu menghasilkan buah-buah Roh (kasih, sukacita, damai, dll) sebagai tanda bahwa transformasi rohani sedang berlangsung. Semakin kita mendalami modal spiritual, maka identitas Kristen semakin nyata dan kita dapat menjadi “garam dan terang dunia” (Matius 5:13–14).
KESIMPULAN
- Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah sehingga kita memiliki identitas yang istimewa. Identitas serupa dengan Kristus adalah panggilan bagi setiap orang percaya.
- Identitas Kristus mencerminkan kasih tanpa syarat, rendah hati, hidup dalam kebenaran, kesetiaan dan ketaatan, kebijaksanaan, dan nilai-nilai Kristus lainnya.
- Identitas serupa dengan Kristus tidak menghapus latar belakang (agama, suku, marga, pendidikan, dll), melainkan menebus dan menyatukannya di bawah kasih Kristus.
- Modal dasar, modal intelektual, dan modal spiritual perlu ditingkatkan dalam mempertahankan identitas Kristiani di zaman modern ini. Layaknya sebagai struktur utama sebuah bangunan agar kokoh dan kuat.
- Seorang Kristen perlu mengosongkan diri, menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat, dan mengalami transformasi rohani untuk memulihkan identitas anak Allah yang sudah hilang akibat perbuatan dosa.
- Identitas Kristen membuahkan teladan dan cerminan Kristus, menghasilkan buah yang baik (buah roh), dan mendorong kita menjadi garam dan terang dunia, sehingga kita tidak hidup untuk diri sendiri dan dalam ego kita, melainkan hidup untuk sesama dan untuk kemuliaan Allah.
DAFTAR PUSTAKA / REFERENSI
- Alkitab,
- Pengalaman dan pertemuan pribadi dengan Tuhan,
- Tuntunan Roh Kudus.






Posting Komentar untuk "Cara Menciptakan Identitas Agar Serupa Dengan Kristus Yesus"