Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menemukan Identitas Sejati Dalam Kristus di Tengah Dunia Yang Semakin Digital

Pentingnya identitas dan jatidiri sejati ditemukan masing-masing orang Kristen

Dunia yang semakin digital artinya satu kondisi dimana segala aspek kehidupan telah terintegrasi pada satu sistem digital, yang mana secara tidak langsung mengharuskan seluruh lapisan masyarakat diwajibkan melakukan penyesuaian diri baik dengan cara otodidak, maupun melalui study khusus. Sehingga tidak disebut ketinggalan zaman, melainkan kekinian.

Namun adalah sebuah ironi dimana ketika teknologi semakin canggih, namun terdapat kekhawatiran-kekhawatian baru akibat dari kehadiran teknologi itu sendiri. Sebagaimana terlihat pada judul seminar hari ini, mengenai pencarian identitas seorang Kristen. Apakah bisa real atau hanya buatan?.

Untuk menjawab pertanyaan diatas tentu tidak mudah. Melainkan harus lebih dahulu melakukan kajian terhadap jenis-jenis dunia tempat manusia berinteraksi, esensi digital ditinjau dari perspektif Kristen, tipologi identitas yang dicari, serta metode perlindungan diri agar tetap real.


I. 3 Jenis Dunia Tempat Manusia Berinteraksi 

Topik ini sebenarnya bagian dari seminar yang saya bawakan bagi muda-mudi gereja di Semarang tahun 2019 silam. Dan penjelasan selengkapnya telah saya upload di blog ini tahun 2023 yang lalu. Oleh sebab itu tidak perlu saya lampirkan kembali disini. Jadi, saudara-saudara bisa membaca topik tersebut melalui tautan ini.

Akan tetapi kaitannya dengan judul seminar kali ini, penting saya tambahkan penjelasan mengenai prioritas yang harus kita pilih. Apakah di dunia Rohani, dunia Jasmani atau di dunia maya.Dengan demikian kita bisa mengefektifkan waktu, pikiran maupun dana yang kita miliki. Supaya tidak terbuang sia-sia oleh karena keinginan, atau mengikuti trend.

Dalam hal ini pilihan saya yang paling prioritas adalah aktivitas dunia rohani, dengan alasan sebagai berikut:

  1. Biaya sangat murah dan dapat dilaksanakan disemua tempat dan waktu
  2. Tidak perlu persiapan khusus, melainkan hanya dengan memberi ruang sebesar-besarnya kepada Roh Kudus agar bekerja dalam diri kita
  3. Bentuk pertanggungjawaban iman, keselamatan yang diterima dan identitas yang dipakai sebagai pengikut Kristus.
  4. Melaksanakan tugas pekabaran Injil sebagaimana yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid. Yakni menjadikan seluruh suku dan bangsa menjadi murid Yesus.

JIkalu anda memilih dunia jasmani dan dunia maya sebagai prioritas tentu ada konsekuensi yang harus diterima. Konsekuensi langsung saat ini adalah membuat iman anda tidak bertumbuh, melainkan terbengkalai sehingga kelak tidak bakal mendapat pengampunan, keselamatan dan kehidupan kekal.

Bagaimana pun adalah satu kesia-siaan jikalau hanya selama didunia kita dapat menikmati segala apa yang kita harapakan, sementara pada kehidupan yang akan datang justru menderita akibat menanggung dosa yang sangat besar. Bukankah hal itu sebuah ironi?.

 

II. Internet & AI Ditinjau Dari Perspektif Kristiani

Tidak ada satu kitab suci agama manapun yang pernah menubuatkan kehadiran internet. Terlebih sampai pada tata kelola, regulasi dan legalitas agar internet tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran agama. Atau setidaknya terhadap nilai-nilai kemanusiaan. 

Termasuk dalam kitab suci Kristen, tidak ditemukan ayat yang secara eksplisit merujuk tentang internet. Pertanyaan, setelah internet hadir ribuan tahun pasca kanonisasi oleh peradaban yang jauh lebih modern, apakah internet dan turunan-turunannya lantas bertentangan dengan Alkitab?. Belum tentu!. Sebelum mengatakan iya atau tidak, mari simak penjelasan tentang 4 hal dibawah ini.

A. Cara Kerja Internet, AI & Roh Kudus

Unsur-unsur dan tujuan internet

Layanan internet bekerja dengan baik jika dilengkapi dengan 3 unsur, yakni:

  1. Jaringan internet domestik dan internasional, 
  2. Perangkat keras komputer (Hardware), 
  3. Perangkat lunak (Softaware).

Perusahaan penyedia jaringan internet atau disebut juga dengan istilah Provider. Dari dalam negeri misalnya Indosat, Telkomsel, Tri, dan lain-lain. Sedangkan dari luar negeri antara lain Huawei, Starhub, Maxis, Unicom. Contoh layanan provider mulai skala terkecil hingga terbesar antara lain: Bluetooth/Quick Share, LAN (Wifi), MAN (Indihome, Biznet, Republik, MNC Play Media), WAN (Server: Niagahoster, Rumahweb, Hostinger dan lain-lain)

Sementara produsen hardware antara lain Samsung, Asus, Lenovo, Dell, Iphone, Oppo dan seterusnya. Contoh produk yang digunakan untuk koneksi internet adalah personal computer, laptop, smatphone, gadget, jam tangan, tape mobil dan lain-lain. Sedangkan contoh produsen perangkat lunak (software), sehingga komputer dapat digunakan untuk berbagai keperluan adalah Microsoft, Apple, Android, Alphabeth, Oracle, Tencent dan sebagainya.

Pertanyaan, apakah perusahaan-perusahaan tersebut punya misi yang sama, dan berhubungan dengan kemanusiaan atau lingkungan hidup?. Tidak!. Mereka hanya disatukan oleh bisnis pada pangsa pasar yang sama, yakni masyarakat global. 

Jadi ditinjau dari perspektif produsen, tujuan utama internet adalah untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya bagi perusahaan. Bukan untuk kepentingan sosial sebagaimana digembar-gemborkan pada beberapa platform, apalagi untuk layanan gereja (Injil).

Apa, Siapa / Bagaimana AI?

AI (Aftificial Intelligence) adalah sistem komputer yang dirancang sedemikian rupa melalui coding oleh produsen softaware, untuk meniru kemampuan intelektual manusia. Seperti memahami bahasa-bahasa, gambar-gambar grafis, hingga analisa data dalam bentuk teks, audio maupun video.

Kaitannya dengan cara kerja dan eksistensi, hubungan antara internet dengan AI dapat dianalogikan seperti dapur dan meja makan. Internet layaknya sebuah dapur, yang menyediakan dan memproses berbagai macam bahan hingga menjadi makanan siap saji. Sedangkan AI adalah sebuah meja yang terdapat pada ruangan dapur, yang berguna sebagai tempat untuk menyajikan dan menyantap makanan. 

Berdasarkan analogi diatas dapat diambil kesimpulan. Tanpa internet sebenarnya IA tidak berguna sama sekali. Sebaliknya, justru sebelum AI hadir internet dirasa lebih manusiawi, dan ramah intelektual. Dengan kata lain tanpa meja makan pun kita bisa menikmati sarapan pagi, akan tetapi tanpa dapur mustahil kita dapat menemukan makanan untuk sarapan.

Analogi kedua, hubungan internet dengan AI yang sangat paradoks adalah seperti bangunan rumah dengan manusia. Semua manusia berhak dan bisa menjadi pemilik, bahkan untuk menikmati seluruh manfaat yang diperoleh dari bangunan rumah. Tapi, ketika proses pembangunan rumah berlangsung tak seorang pun yang dapat merangkap jadi arsitek, engineer, tukang, suplier bahan sekaligus sebagai pemilik. 

Sebagian besar justru tidak memiliki peran sama sekali, alias hanya sebagai penonton atau penerima manfaat. Pun jikalau terlibat paling banter rangkap tiga. Misalnya arsitek merangkap suplier, sekaligus pemilik rumah. 

Demikian juga keberadaan AI di internet, pada dasarnya adalah sebagai penerima manfaat atas data-data yang sudah tersedia di internet. Sehingga AI cenderung tidak fair, karena merangkum data milik orang lain tanpa ijin resmi. Lalu menampilkannya pada halaman teratas web crawler.

Sekarang menurut Anda ditinjau dari kebutuhan masyarakat secara umum, apakah AI bermanfaat?. Sebagai Blogger, penulis menjawab tidak!. AI secara tidak langsung telah merampas kesempatan website kami untuk mendapat klik web yang lebih besar.

Pertanyaan kedua, secara khusus terkait eksistensi manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia. Yang diberi mandat untuk menguasai/mengelola bumi beserta segala sesuatu yang terdapat didalamnya. Apakah AI real good?. Sebagai salah seorang Penatua gereja, Penulis juga menjawab tidak!. 

Iman dan jati diri Kristen tidak bisa ditemukan dengan cara-cara menjiplak, rekayasa atau pura-pura. Melainkan harus dalam kesatuan, pimpinan, dan tuntunan Roh Kudus. Dengan demikian maka tugas untuk menguasai bumi, dan segala ciptaan dapat terlaksana sesuai dengan kehendak Tuhan.

Roh Kudus era PL dan PB

Kehadiran Roh TUHAN di bumi sebenarnya sudah ada sejak zaman penciptaan. Hal itu tertulis dalam kitab Kejadian 1:2 Perjanjian Lama. Akan tetapi, kala itu Roh TUHAN hanya bekerja secara individu-individu. Yaitu khusus pada orang-orang terpilih seperti nabi, imam, raja atau hakim. 

Namun setelah Pentakosta, dengan sendirinya sebutan Roh TUHAN berubah menjadi Roh Kudus. Pertanda bahwa kehadiranNya tidak lagi khusus pada orang-orang terpilih, melainkan kepada seluruh umat manusia. Hanya, sebagai jaminan dan materai keselamatan Roh Kudus hadir dalam diri orang-orang percaya saja. Oleh sebab itu Pentakosta dipercaya menjadi awal mula berdirinya gereja yang Kudus dan Am.

Kaitannya dengan pengenalan TUHAN terhadap seseorang sebenarnya sudah terjadi sejak janin, alias ketika masih dalam rahim (Yeremia 1:5; Mazmur 22:10 dan Galatia 1:15). Jadi bukan setelah di babtis atau menjadi orang percaya. 

Menjadi paradoks, mengapa kita sendiri sulit menemukan identitas/jatidiri, padahal mengaku sebagai orang percaya?. Sementara TUHAN sudah memberi "kode" agar kita bertanya kepadaNya. Karena sesunggunya hanya Dia lah yang paling mengerti siapa kita sebenarnya. 

Apakah pengenalan diri kita terhalang oleh karena dominasi digital saat ini sebagaimana disebutkan dalam judul?. Atau jangan-jangan karena tidak menyadari, bahwa Roh Kudus lah yang sebenarnya lebih berperan untuk menentukan masa depan kita dibanding dengan internet?.

Jadi kesimpukan terakhir, internet dan AI hanya memberi kita beberapa petunjuk bagaimana cara berbuat baik, agar kita dapat memperoleh keselamatan yang kekal. Sedangkan Roh Kudus mengawal dan mengantarkan kita hingga sampai pada Sang Pemilik keselamatan. 


B. Kendali Gereja Terhadap Digital 

Regulasi dan tata kelola oleh masing-masing unsur yang terlibat dalam digital sebenarnya sudah diatur sedemikian rupa. Dengan tujuan agar pengguna internet tidak melanggar norma-norma agama, norma hukum yang berlaku pada negara, bahkan norma-norma sosial dan budaya pada masyarakat.

Misalnya oleh Telkomsel (perusahaan penyedia jaringan) memberi batasan kecepatan internet sampai dengan 300 Mbps. Lalu identifikasi pengguna dilakukan berdasarkan nomor kependudukan, dan nomor smartphone.

Kemudian oleh produsen perangkat keras (Hardware), mewajibkan semua pembeli melakukan register produk yang dipakai melalui akun email. Sedangkan oleh perusahaan perangkat lunak (Softaware) untuk menjaga privasi data, mereka melakukan pembaruan produk secara berkala.

Lalu bagaimana dengan gereja?. Apakah sudah mengeluarkan satu ketetapan tentang tata guna dan etika digital, agar tidak bertentangan dengan Alkitab?. Prediksi Penulis Gereja Katolik Roma sudah punya. Sebab sejak tahun 2002 Vatikan sudah memberi perhatian khusus pada peradaban baru dunia maya (www.vatican.va).

Vatikan sudah memberi perhatian khusus pada peradaban baru dunia maya

Lalu bagaimana dengan GKPS?. Sampai saat ini belum menentukan sikap sebagaimana pada umumnya ditetapkan dalam Tata Dasar Gereja lebih dahulu. Kemudian menetapkan sebuah regulasi khusus terkait dunia internet. Akhirnya tata kelola internet untuk pelayanan, kesaksian dan persekutuan diserahkan pada jemaat masing-masing.

Maka tidak heran kalau ada kekhawatiran dari kalangan muda-mudi tentang eksistensi GKPS dalam peningkatan pelayanan, khsusnya di dunia maya. Ironinya, muda-mudi GKPS sendiri mulai pesimis bisa menemukan jatidiri sebagai Kristen sejati, jika hanya mengandalkan Tata Gereja GKPS yang ada sekarang. 

Untuk mencegah kekhawatiran tersebut semakin berkembang, Penulis awal tahun 2025 telah mengirim sebanyak 12 halaman artikel kepada Litbang GKPS. Secara garis besar artikel tersebut berisi tentang:

  1. Pembaruan Konfesi dan Tata Dasar
  2. Penyusunan regulasi dan tata kelola dunia maya
  3. Pembentukan Biro Hukum dan Biro Digital
  4. Persiapan pembentukan GKPS Distrik/Departemen Digital.


C. Apakah Digital Tergolong Karunia Tuhan?

Saat Covid-19 melanda dunia, dan mengakibatkan segala aktivitas tatap muka harus dihentikan untuk mencegah penyebaran virus. Diganti dengan aktivitas ruang virtual dunia maya. Termasuk ibadah gereja dan kekgiatan-kegiatan kemasyarakatan lainnya. Saat itu internet serta merta dianggap sebuah karunia Tuhan.

Setahun kemudian, tatkala wabah Covid-19 makin meningkat dan bersamaan dengan itu pula kebutuhan masyarakat terhadap internet juga semakin tinggi. Muncul pernyataan bahwa ibadah online sama dengan altar kudus Tuhan yang ada dalam gedung gereja. Apakah hal itu beralasan dari Alkitab?.

Mengutip sebuah laman Katolik mengatakan bahwa, "Gereja tidak boleh serta merta memandang digital sebagai ruang kejahatan, tapi tidak menoleransi penggunaan internet untuk tujuan yang tidak benar". Berarti kita harus hati-hati dalam menentukan sikap dan pernyataan apakah digital sebuah karunia atau tidak. Apalagi sampai mengklaim sebagai Altar Kudus.  

 Rujukan paling dekat ayat Alkitab untuk menentukan apakah internet karunia Tuhan atau tidak, adalah:

  • Matius 24:14 mengatakan, "Injil akan diberitakan ke seluruh dunia sebagai kesaksian bagi seluruh bangsa".
  • 1 Korintus 10:3b berkata, "jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Allah".

Gabungan kata kunci yang terdapat pada 2 ayat tersebut adalah "Injil akan diberitakan untuk kemuliaan Allah". Jikalau diaplikasikan berarti kita harus membuat batasan penggunaan internet lebih dulu, yaitu hanya untuk kemuliaan Allah. Supaya kita dapat menyimpulkan bahwa internet adalah karunia.

Sebaliknya jikalau tidak ada batasan. Jangankan sebagai karunia, atau petunjuk untuk berbuat baik sebagaimana disebutkan sebelumnya. Tidak menutup kemungkinan internet akan menjadi sumber petaka bagi diri sendiri dan/atau kepada orang lain. Misalnya karena pemberitaan Injil dilakukan untuk tujuan konten, maka kebenaran yang disampaikan akan cenderung diabaikan. 

D. Sikap Orang Percaya Terhadap Digital & AI 

Berdasarkan penjelasan diatas, dimana:

  1. Tujuan utama internet diciptakan adalah murni untuk bisnis,
  2. AI cenderung menempatkan manusia sebagai objek, bukan mahluk ciptaan Tuhan yang paling mulia.
  3. Mayoritas gereja masih memilih pasif terhadap issu tata kelola internet.

Maka sikap orang percaya, khususnya kalangan muda-mudi gereja terhadap internet dan AI, adalah mengacu pada firman Tuhan yang tertulis dalam 1 Korintus 6:12b, "Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun". Yaitu Menerima, Memanfaatkan dan Mengendalikan.

Dengan demikian pencarian identitas dan jatidiri yang real, dapat anda lakukan tanpa terbebani oleh satu kepentingan. Melainkan menyerahkan seluruhnya kepada Roh Kudus yang bersemayam dalam diri anda, untuk menuntun anda pada tujuan yang hakiki yakni serupa Kristus (1 Yohanes 2:6).


III. Menciptakan Identitas Serupa Dengan Kristus

Beda dengan sub judul sebelumnya, kali ini saya membawakan materi dengan metode semi dialog. Artinta pemaparan dilakukan sambil pengajukan 7 buah pertanyaan secara bertahap. Sementara itu pengecekan akurasi jawaban dibantu oleh panitia untuk menentukan siapa yang layak diberi hadiah.

Setelah pemaparan saya memberi tugas besar kepada semua peserta. Yaitu membuat makalah/artikel dengan judul “Menciptakan Identitas Serupa Dengan Kristus”. Ketentuan dan syarat-syarat penulisan artikel sebagai berikut:

  1. Pengumpulan artikel maksimal 2 minggu setelah seminar (Tgl. 9 Nov’2025),
  2. Boleh perorangan atau kelompok
  3. Artikel minimal 5 lembar (≥1.500 karakter)
  4. Total hadiah Rp 1.500.000,- untuk 3 orang/kelompok pemenang
  5. Selain berdasarkan jumlah kata/lembar, penjurian dilakukan berdasarkan keabsahan tulisan, dengan ketentuan plagiat maksimal 15%.    

Serupa dengan Kristus artinya mengadopsi karakter, hati dan gaya hidup Yesus. Antara lain dengan mengedepankan 3 jenis modal :

  • Dasar (Agama, Marga & Didikan orang tua/keluarga)
  • Intelektual (Skill & Kreativitas)
  • Spiritual (Pengalaman Rohani)

Berdasarkan 3 jenis modal inilah artikel dikembangkan sesuai dengan judul yang telah ditentukan. Jadi paling tidak dalam artikel tersebut terdapat 3 sub judul, dan 6 item sub judul.

Adapun daftar pertanyaan yang saya ajukan kepada peserta adalah terbagi 2, yaitu:

A. Pertanyaan khusus kepada Anak/Mahasiswa Baru

1. Siapa yang hafal tanggal babtisnya, dan paling awal di babtis?. 

Berbahagialah karena anugerah Tuhan anda terima lebih dini. Berarti anda lebih awal masuk ke dalam persekutuan dengan Allah, menerima pengampunan dosa dan keselamatan dari Kristus (Markus 10:14). 

Sebagai manusia lahiriah dengan latar belakang orang Yahudi yang patuh pada hukum Taurat, Yesus juga menerima ritual yang sama dengan orang-orang Yahudi pada umumnya. Yaitu sunat pada hari ke-8 sejak hari kelahiranNya, dan babtis air di sungai Yordan.   

2. Siapa yang punya akun medsos pakai nama asli semua?. Artinya tidak berbeda-beda antara medsos yang satu dengan yang lain. 

Walau nama duniawi kita belum tentu itu yang tercatat dalam kitab kerajaan Allah. Paling tidak dengan menunjukkan identitas asli kepada dunia maya, berarti kita sudah berusaha jujur dan bersyukur. Menerima apa adanya diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya. 

3. Siapa tadi pagi menghubungi orang tua menanyakan khabar, atau sekedar mengucapkan selamat pagi?. 

Itu pertanda bahwa anda sangat mengasihi orang tua dan patuh pada firman Tuhan. Hal itu penting, sebab ketika mereka sudah tiada berarti kita tidak pernah lagi mendapat didikan dari orang tua. Berarti pula kita kehilangan orang yang paling peduli dengan kita. 

4. Siapa disini yang ambil jurusan atas anjuran orang tua?. 

Era yang semakin digital ini harus kita akui segala jurusan itu bagus. Artinya berpotensi untuk dikembangkan lebih luas atau pada hal-hal yang lebih spesifik. Karena internet telah memberi kemudahan bagi kita untuk mendapatkan sumber pengetahuan dari berbagai bidang keahlian. Oleh sebab itu tidak perlu idealis terhadap suatu pilihan. 


B. Pertanyaan untuk semua muda-mudi

5. Siapa yang sudah selesai membaca Alkitab?. 

Firman Tuhan dalam 2 Timotius 3:10-17 mengatakan cara kedua untuk menumbuhkan iman adalah dengan membaca Kitab Suci. Sedangkan yang pertama adalah siap menderita dan sengsara. Sekarang anda pilih yang mana, membaca Alkitab lebih dulu atau menderita dan sengsara?.  

Metode pembacaan Alkitab sebaiknya mulai dari Injil Yohannes, kemudian lompat pada kitab Perjanjian Lama (PL). Setelah PL selesai, lanjut pada kitab Perjanjian Baru (PB) hingga selesai. Dalam hal ini Injil Yohanes boleh anda baca ulang atau tidak.

6. Siapa yang hafal doa Bapa Kami bahasa ibu/bapaknya?. 

Bagimanapun kita harus ingat bahasa leluhur. Paling tidak hanya dengan mengucapkan doa yang sama seperti yang pernah mereka ucapkan selama hidup mereka. Tidak ada cara yang lebih mulia dan rohani untuk menunjukkan identitas kesukuan kita, dibanding berdoa Bapa Kami pakai bahasa asli leluhur.

Ketika Yesus mengajarkan doa ini, terisat pesan agar kita melalukan hal yang sama pada setiap bahasa dimana kita berada. Sebab pada saat itu bahasa yang dipakai Yesus adalah bahasa Aramaik. Yaitu bahasa tradisional Yahudi.

7. Siapa yang sudah hafal doa Bapa Kami bahasa Jawa?.

Penulis sampai saat ini saya hafal 9 doa Bapa Kami, yakni: Bahasa Simalungun, Toba, Indonesia, Ingggris, Latin, Aramaik, Jawa, Bali, Sunda. Mengapa ini perlu bagi orang percaya?. Karena hanya dengan mengucapkan doa ini kita bisa ter-connect secara rohani dengan saudara-saudara se-iman yang berbeda asal usul. 

Pengalaman rohani Penulis, sejak tahun 2009 melanglang buana tugas luar kota/pulau. Sejak berangkat dari rumah saya selalu ber-Doa Bapa Kami pakai bahasa daerah tempat yang akan saya tuju. Puji Tuhan selama perjalanan selalu lancar, dan selama tugas pun tidak ada kendala.


IV. Counter Attack, Self Branding & Role Model

Bab ini disajikan dalam bentuk Forum Grup Discussion (FGD), yang terdiri dari 3-5 kelompok. Dimana untuk membatu diskusi agar berjalan efektif, dibutuhkan beberapa orang panitia yang bertugas sebagai mediator dan notulen. Dalam hal ini FGD dilaksanakan gabungan antara anak baru dan lama, dengan proporsi 1:3. Artinya 1 orang mahasiswa senior mendampingi 3 orang mahasiswa baru,

a). Metode FGD:

1. Tiap-tiap kelompok memilih salah satu analogi dibawah, kemudian menjelaskan pesan Teologi yang diperoleh secara khusus dalam hal mempertahankan jatidiri Kristen sejati.

2. Pilihan analogi adalah : 

  • Telur, 
  • Tanaman Sayur, 
  • Pohon Kelapa

3. Pesan Teologi minimal 5 untuk masing-masing analogi/kelompok

b). S & K : Tidak boleh buka hp.

Pesan Teologi yang diperoleh dari Tanaman Sayur

A. Latar Belakang & Tujuan

Mirip dengan sebuah produk barang yang telah beredar dipasaran, terutama yang telah memiliki pangsa pasar tersendiri. Produsen pasti ingin mempertahankan bahkan meningkatkan penjualan produk tersebut. Supaya tidak kalah bersaing dengan produk yang lain.

Demikian pula dengan orang Kristen. Ketika telah menemukan jatidiri dalam Kristus Yesus tidak serta merta lepas dari gangguan. Oleh sebab itu harus menyiapkan penangkal diri agar identitas yang sudah terbentuk tidak pudar, atau hilang oleh karena pengaruh gangguan-gangguan tersebut. 

Selain berdasarkan ayat-ayat Alkitab, penangkal diri dapat kita tingkatkan berdasarkan pesan teologi yang diperoleh dari 3 analogi sebagai berikut:  

I. Pesan Teologi Telur

1. Awal mula mahluk hidup. Dan terdiri dari 3 unsur yakni: Cangkang, Putih Telur, dan Kuning Telur. ---> Untuk mempertahankan identitas dan jatidiri tidak cukup dengan kemauan. Tapi harus memiliki perlengkapan khusus  yaitu: Otot, Otak dan Optimisme

2. Agar bisa menetas sebuah telur harus melalui proses pengeraman, dalam waktu belasan hingga puluhan hari. ---> Menjadi Kristen sejati tidak bisa instan, melainkan harus melalui proses panjang. Salah satu diantaranya pasti mengalami banyak pergumulan hidup.

3. Proses pengeraman harus melibatkan mahluk lain. Dalam hal ini cara tradisional adalah induknya, atau dengan cara modern yaitu manusia. ---> Untuk mengetahui bahwa kita tetap berada pada koridor yang benar,  kita membutuhkan kehadiran orang lain sebagai cermin dan penguji.

4. Pada saat menetas mahluk hidup yang ada dalam cangkang harus berjuang sendiri, agar bisa bebas. Alias agar tidak tetap terkurung.---> Mempertahankan jatidiri tidak mudah, tapi kadangkala harus berjuang sampai titik nadir. Uniknya, tak jarang yang menjadi musuh utama justru yang berasal dari diri kita sendiri.

5. Telur tahan terhadap perlakukan panas, maupun dingin. Artinya bentuk dan posisi unsur tidak berubah ketika berada pada suhu rendah, maupun suhu tinggi. ---> Tetap pada pendirian sekalipun alam maupun lingkungan sosial berkehendak lain. 


II. Pesan Teologi Tanaman Sayur 

1. Media tanam sayur ada 2 macam, yakni sistem hidroponik (modern) dan tanah (tradisional). Masing-masing media memiliki proses dan hasil yang berbeda. ---> Dalam teologi Kristen ada istilah kehendak bebas. Jadi kita selalu diberi kesempatan untuk memilah dan memilih apa yang menurut kita yang terbaik.

Dalam hal ini Anda telah menjadi bagian dari GKPS; yang adalah salah satu gereja yang dibangun atas dasar tradisi dan budaya Simalungun. Tetap memiliki kekebasan untuk bertahan atau hengkang!.

Toh, kelak pada hari pengahakiman pertanggungjawaban iman diminta dari pribadi masing-masing yang bersangkutan, bukan kepada organisasi gereja dimana Anda terdaftar.

2. Sistem hidroponik lebih cepat panen dibanding cara tradisional. Dan relaltif terhindar dari cuaca maupun serangga ---> Satu-satunya cara untuk menumbuhkan, sekaligus menjaga agar iman tetap kuat adalah mengundang kehadiran Roh Kudus dalam diri kita. 

Kehadiran Roh Kudus dalam diri seseorang adalah sebuah karunia Tuhan, artinya tidak bisa dipaksa agar cepat datang ketika diperlukan, atau sebaliknya agar segera pergi tatkala sudah tidak dibutuhkan.

3. Tampilan daun sayur hidroponik sangat bagus, serta relatif lebih lebat. ---> Kristen sejati tidak dinilai dari tampilan dan aksesoris yang dipakai. Tapi dari seberapa aktif dia menjalankan perintah Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari.

4. Sistem penanaman sayur hidroponik selalu pada media yang sama. Alias dilakukan secara berulang ditempat yang sama. ---> Agar iman bertumbuh dan berbuah tidak boleh berdiam diri di tempat. Tetapi harus aktif dan reaktif. Justru, jukalau berdiam diri maka iman menjadi kerdil.

5. Tanaman sayur sistem tradisional setiap saat terhubung langsung dengan cuaca, serangga maupun hewan liar. ---> Kristen sejati harus berinteraksi langsung dengan masyarakat umum. Bukan hanya kepada kelompok-kelompok tertentu yang dianggap sepaham, atau yang membuat nyaman.

Sebagimana diperintahkan oleh Yesus kepada murid-murid, "Pergilah jadikanlah seluruh umat manusia muridKu. Mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, hingga ujung dunia". Maka kita juga harus bersaksi kepada dunia agar semakin banyak yang menerima Yesus dan diselamatkan.


III. Pesan Teologi Pohon Kelapa 

1. Memiliki akar serabut yang sangat kuat. Berfungsi sebagai: Stabilitas, Sumber nutrisi & Air bagi pohon. ---> Menjadi Kristen sejati harus punya dasar iman yang kuat, yaitu Yesus; Jalan, Hidup & Kebenaran

2. Memiliki batang tunggal yang sangat kokoh. Sehingga tahan terhadap terpaan angin. ---> Jika iman sudah kuat maka segala rintangan dapat dilalui tanpa harus ada yang dikorbankan.

3. Bentuk daun yang sangat unik. Memiliki tulang rusuk dan berwarna cerah. ---> Orang Kristen harus punya dan menunjukkan ciri khas masing-masing, sebagai bagian dari kesaksian pribadi non verbal. Misalnya melalu talenta, bakat, ide dan kreativitas. 

4. Berbuah sepanjang waktu. Alias tidak musiman. ---> Menjadi Kristen sejati tidak boleh temporer sesusi dengan mood. Melainkan harus militan, tanpa lelah, dan anti menyerah.

5. Dari akar hingga daun kelapa dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidup. ---> Dari pagi hingga malam hari Kristen sejati harus mampu menjalankan tugas dan tanggungjawab sesuai dengan teladan Yesus. Bukan untudk diri sendiri, tetapi bermanfaat bagi orang lain juga.


B. Pentingnya Branding dan Role Model

Telur, sayur dan kelapa termasuk kebutuhan pokok manusia. Karena dapat memberi nutrisi dan energi bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu 3 jenis bahan makanan tersebut selalu dibutuhkan, dan tetap eksis dipasaran. Bagaimana dengan orang Kristen?. Apakah kehadirannya dibutuhkan dalam suatu kelompok, atau justru sebaliknya?. 

Pesan rohani yang diperoleh dari 3 analogi diatas seorang Kristen harus menjadi sosok yang dibutuhkan dibutuhkan. Artinya menjadi Kristen tidak cukup sekedar tertulis sebagai bagian dari identitas pribadi. Akan tetapi harus terukir dalam bentuk aksi nyata ditengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara.

Tidak cukup hanya pelaku, seorang Kristen sejati diharapakan menjadi pelopor dan teladan bagi orang lain. Bagaimana hal itu bisa terealisasi?. Berarti kita harus punya “branding” yang pantas ditunjukan sebagai “role model”.  Sehingga orang lain dengan mudah meniru, dan mengembangkan apa yang sudah kita lakukan sebelumnya.

Singkatnya, peningkatkatan jatidiri Kristen harus selalu dilakukan setiap saat. Supaya tidak tergoda pada hal-hal duniawi yang menginginkan kita kembali pada kehidupan yang lama. Nah, ketika hal itu dapat kita lakukan dengan baik, berarti secara tidak langsung kita sudah mencipkan “self branding” pada diri kita sendiri sebagai Kristen sejati. Otomatis hal itu pula yang menjadi “role model” pribadi kita terhadap orang lain. Tuhan Yesus Memberkati.  


Oleh : St.Riahman Siallagan,S.Ars,.IAI

Materi Seminar Peneriamaan Mahasiswa Baru (PAB) 

di GKPS Semarang, 26 Oktober 2025

Posting Komentar untuk "Menemukan Identitas Sejati Dalam Kristus di Tengah Dunia Yang Semakin Digital"