Cara Unik Menghadapi Penderitaan Hidup Berkepanjangan [Ayub 14:14]
Pada umumnya yang dipikirkan orang ketika sakit keras adalah mengenai makna hidupnya di dunia ini. Sebagaimana yang dipikirkan oleh Ayub pada nas renungan hari ini.
Ayub secara jujur di hadapan Tuhan mengaku tentang dua hal, yaitu:
1. Keluh kesah atas pergumulan
Ayub berkeluh kesah tentang hidupnya yang fana. Karena penderitaannya yang begitu hebat dan berkepanjangan. Membuatnya menyadari betapa singkat dan tidak bernilainya hidup manusia.
Kemudian, di mata Ayub juga hidup manusia kalah nilainya dengan sebatang pohon. Sebuah pohon dapat bertunas kembali setelah ditebang. Bahkan lebih rindang dan berbuah banyak dari semula.
Namun sisi lain dari keluh kesah tersebut. Ia juga menyadari bahwa manusia dapat seperti itu akibat dari dosa-dosa manusia itu sendiri kepada Tuhan. Mengingat pada awalnya manusia adalah ciptaan yang paling mulia. Jadi, tidak mungkin nilainya lebih rendah dibanding ciptaan lain.
2. Kedaulatan Tuhan atas manusia
Pengakuan Ayub yang kedua adalah tentang kedaulatan Tuhan atas kehidupan manusia. Ditunjukkan melalui kuasa-Nya yang membatasi hari-hari (usia) manusia di atas bumi, dan penghakiman atas manusia karena kesalahan/dosa-dosa yang dilakukan (konsekuensi).
Atas dasar kedaultan itu pula, Ayub mengungkapkan pengharapan dalam menghadapi kematian yang akan segera tiba, “Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku, sampai tiba giliranku.”
Mengapa sikap positif itu lahir dari Ayub?. Jawabnya, karena ia yakin bahwa Tuhan akan mengampuni segala dosa dan kesalahannya. Sehingga ia mendapat upah yang sangat besar, yakni hidup kekal dalam kerajaan sorga.
Pembaca Gembala Umat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Hidup kita yang sementara, dan kadang diisi dengan berbagai macam penderitaan. Seperti yang dialami oleh Ayub pada masa itu.
Sesungguhnya penderitaan itu merupakan bagian dari rencana Tuhan, yang kadangkala tidak bisa dijangkau pemikiran manusia. Misalnya tentang bagaimana awalnya pernderitaan itu datang, seperti apa solusi yang tepat, dan kapan berakhir.
Tetapi hal yang pasti untuk kita pahami dan imani. Jangan sampai penderitaan itu memisahkan kita dari kasih sayang Tuhan. Mengingat Tuhan tidak pernah membiarkan umatNya menderita melebihi kemampuannya.
Penting kita imani juga, bahwa kita telah disebut anak-anak-Nya melalui kelahiran, kematian, dan kebangkitan Anak-Nya. Yaitu Yesus Kristus, yang kita imani sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.
Oleh karena itu, dalam menghadapi penderitaan, mari kita datang kepada-Nya bukan dengan ketakutan terhadap kemarahan-Nya. Tetapi kita datang kepada-Nya sebagai Bapa yang menyayangi anak-anak-Nya.
Terakhir, marilah kita tetap berpengharapan kepada Tuhan, walaupun pada saat hidup kita menghadapi penderitaan. Sebab di saat itu jugalah kita akan beroleh kasih karunia dan pertolongan.
Lampiran nas renungan
Ayub 14:14; “Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi? Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku, sampai tiba giliranku;” Amin.

Posting Komentar untuk "Cara Unik Menghadapi Penderitaan Hidup Berkepanjangan [Ayub 14:14]"