Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alasan Tidak Boleh Iri Terlebih Pada Orang Jahat [Amsal 24:1]

Pesatnya perkembangan media sosial saat ini, banyak dampak yang tidak disadari dapat mempengaruhi kita. Salah satunya adalah menimbulkan rasa iri. Misal ketika kita melihat orang yang sering mengunggah keberhasilannya di media sosial, atau ketika melihat postingan orang lain yang sedang melakukan perjalanan ke luar negeri. 

Maka tanpa disadari rasa iri itu keluar dengan ucapan yang mengatakan, “Kapan ya saya bisa seperti dia?”. Atau, “Kok hidup orang ini enak sekali sih?”. Dan, ada pula yang berpikiran negatif berkata, "jangan-jangan duit hasil korupsi yang diapakai!".

b. Iri lebih jahat dari monster 

Ibarat seorang monster jahat, iri hati bisa menjadikan kita semakin jauh dari Tuhan. Iri hati juga sering disebut sebagai dengki, atau merupakan sebuah emosi yang tidak senang atas keunggulan yang dimiliki orang lain. 

Pada renungan hari ini kita diingatkan melalui Amsal 24:1 untuk tidak iri hati terhadap orang lain. Apalagi orang-orang berdosa, atau menganggap mereka berbahagia, atau menginginkan diri ada dalam keadaan seperti mereka. 

Janganlah kita demikian, sekalipun mereka begitu makmur di dunia ini, dan senantiasa merasa gembira dan aman. Janganlah pikiran seperti ini masuk dalam benak kita, bahwa, seandainya saja saya bisa melepaskan segala kekang agama dan hati nurani, dan berbuat sebebasnya untuk melampiaskan hawa nafsu daging, sebagaimana aku melihat si “A” dan si “B” melakukannya. Jangan. 

Jangan ingin ada bersama mereka untuk berbuat seperti yang mereka perbuat. Dan, jangan ingin berhasil sebagaimana mereka berhasil. Alasan mengapa jangan iri kepada mereka adalah karena jalan mereka adalah jalan kebinasaan. 

b. Peralihan orang baik jadi jahat karena iri  

Pengertian orang jahat bukan hanya orang yang merampok, membunuh, memperkosa, membuat kerusuhan, dan lain sebagainya. Tapi, termasuk seorang yang menipu temannya dengan licik sampai mengalami kemelaratan. 

Termasuk juga seorang manager yang sedang meniti jenjang karir, namun tidak segan-segan menyingkirkan rekan saingannya. Pula, termasuk seorang jutawan yang menindas hak-hak orang lemah demi ambisi agar semakin kaya raya. Juga, orang yang memutarbalikkan keadilan demi kepentingan diri sendiri atau golongan.

Dari begitu banyak contoh-contoh diatas, layakkah mereka disebut orang benar?. Tidak!. Namun yang menjadi paradoks adalah ketika seorang dahulu berkelakukan benar, namun iri kepada orang yang tidak berkelakuan benar. Maka ia secara tidak sadar terlah berubah jahat.

Seharusnya melihat kesuksesan dan kejayaan orang lain, menambah pemahaman kita tentang keadilan dan kedaulatan Tuhan dinyatakan (ayat 19-20). Bukan nyinyir, apalagi menyebar gosip sana-sini. 

Melalui nas ini ada beberapa poin penting, antara lain:

1]. Kita tidak perlu iri terhadap keberhasilan seseorang 

Tuhan selalu adil dalam memberi berkat-Nya. Jika saat ini kita masih berada di bawah kesulitan dan pergumulan, maka kita harus tetap teguh dalam iman pengharapan kita, karena masa depan itu sungguh ada (Amsal 23:18). 

2]. Sebagai orang percaya, kita harus takut akan Tuhan dan membersihkan pikiran kita dari semua yang jahat dan sia-sia. 

Tindakan baik atau pun jahat dimulai dari pikiran, diutarakan melalui mulut, dan dinyatakan dalam perbuatan. Maka dengan berhikmat kita tidak akan terpengaruh dengan orang jahat dan akan berelasi baik dengan sesama. 

Ingatlah, Tuhan tidak akan membiarkan kita dipengaruhi oleh cara hidup yang jahat. Apalagi bergaul dengan orang jahat. Sebaliknya, Tuhan rindu agar kita umat pilihan-Nya memiliki cara hidup yang berbeda dari mereka. Yaitu cara hidup yang berkenan di hadapan Allah. 

- Lampiran ayat bacaan

Amsal 24 ayat 1: “Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka.” Amin.


Posting Komentar untuk " Alasan Tidak Boleh Iri Terlebih Pada Orang Jahat [Amsal 24:1]"