Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Ampuh Mengendalikan Musuh Ternyata Begini [Roma 12:20]

Ayat hari ini menuliskan tentang bagaimana umat Kristen hidup dalam kasih yang ditunjukkan melalui perbuatan rela berkorban. Perbuatan tersebut tidak hanya ditujukan kepada diri sendiri dan orang yang mengasihinya, tetapi juga kepada orang-orang yang memusuhinya. 

Karena kasih yang Tuhan Yesus ajarkan tidak membeda-bedakan orang yang menerima. Itu dituliskan dalam Matius 5:44, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” 

Mengapa harus demikian?. Karena Tuhan Yesus mengatakan, “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” (Mat. 5:46). 

Tidak hanya itu saja alasannya. Ia mengatakan juga bahwa dengan mengasihi dan mendoakan musuh, “………………. kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat. 5:45). 

Itulah kasih yang Tuhan kita ajarkan melalui bacaan hari ini. Yaitu kasih yang tidak membeda-bedakan orang yang menerimanya. Harus diperlakukan sama, baik musuh atau teman. Kenal atau tidak kenal. 

a. Ajaran kasih mula-mula dalam Perjanjian Lama

Jauh sebelum itu, sebenarnya dalam kitab Amsal (Perjanjian Lama) juga sudah dinasihatkan tentang kasih yang demikian. Jadi konsep kasih tidak hanya muncul dalam Perjanjian Baru. 

Penulis Amsal mengatakan, “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan Tuhan akan membalas itu kepadamu.” (Amsal 25:21-22).

Hal inilah yang kemudian diingatkan kembali oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Apa yang ditulis dalam Amsal dan apa yang Tuhan Yesus pernah khotbahkan saat di atas bukit, menjadi dasar utama bagi rasul Paulus untuk mengajarkan kasih pada jemaat di Roma.

Orang yang lapar memang pasti butuh makan. Orang yang haus memang pastilah butuh minum. Maka, jika kita mau mengasihi orang yang lapar, kasihilah dia dengan cara memberi makanan kepadanya. Begitu juga terhadap orang yang haus. 

b. Mengendalikan musuh dengan kasih

Ayat bacaan hari ini sesungguhnya tidak hanya dituliskan kembali kepada jemaat di Roma. Tetapi kepada seluruh umat percaya seluruh belahan dunia. Tanpa membedakan gender, status sosial, dan jabatan kerohanian.

Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai, atau menyetujui kita. Akan ada yang menjadi seteru kita. Menjadi pertanyaan, apakah akan kita biarkan hal demikian berlarut-larut, atau diselesaikan tahap demi tahap?.

Sebelum menjawab pertanyaan diatas. Mari kita renungkan dalam hati secara jujur. Dalam konteks perselisihan dengan orang lain. Ketika ada niat untuk meyelesaikannya, siapakah sebenarnya musuh kita pertama sekali?. Apakah orang yang menyakiti kita, atau diri kita sendiri?.

Ketika dalam nas bacaan hari ini mengatakan "menumpukkan bara api di atas kepalanya", tetapi kita tidak mau lebih dahulu merendahkan hati, untuk berbuat baik walau disakiti. Bukankah bara api tersebut ada diatas kepala kita?. 

Oleh sebab itu, tahapan pertama sebelum anda dapat mengendalikan musuh adalah mengendalikan ego anda sendiri. Menerima apa yang diperbuat dengan lapang dada. Dan membalas dengan kasih. Maka lambat laun maka ia akan merasa bersalah.

Dengan demikian genaplah yang disebut dalam ayat bacaan hari ini, bahwa kita telah memindahkan bara api yang ada diatas kepala kita ke kepala musuh kita. 

Jadi, satu-satunya cara terbaik untuk mengurangi atau menghilangkan musuh, adalah dengan menjadikannya teman. Aplikasinya adalah siap sedia memberi perhatian, dan menolong. 

- Lampiran ayat bacaan

Roma 12 ayat 20: “Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” Amin.

Posting Komentar untuk " Cara Ampuh Mengendalikan Musuh Ternyata Begini [Roma 12:20]"