Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pentingnya Instrospeksi Diri Atas Penderitaan Hidup [2 Korintus 1:5]


Masalah atau kesulitan hidup, kegagalan atau penderitaan yang serius adalah merupakan kenyataan yang selalu hadir bagi setiap orang. Hanya porsinya memang tidak sama. Pun, durasinya sering berbeda-beda.

Atas dasar itu harus kita sadari, memang tidak semua  orang mampu menderita. Hal itu terlihat dari respon yang dilakukan terhadap penderitaan tersebut. 

Ada yang langsung mempertanyakan kebaikan Allah, dan ada juga yang berontak mengapa harus dirinya yang mengalami. Bukan orang lain. Sementara itu, ada pula orang yang introspeksi. Menyelidiki dosa-dosa yang menjadi penyebab penderitaannya. 

a. Penderitaan bagian dari karya Tuhan Yesus 

Yesus menyatakan pada akhir hidupnya di dunia, bahwa Ia telah mengubah kutuk menjadi berkat. Artinya penderitaan bukan akhir dari segala-galanya. Melainkan ada sukacita yang akan kita peroleh setelah mengalahkan pendertitaan itu.

Sekarang bagimana respon kita?. Bisakah seperti yang dilakukan rasul Paulus?. Bagi Paulus kemuliaan Allah adalah untuk kebaikan kita, maka penderitaan dapat mengantar kita semakin dekat dengan Allah dan juga saudara-saudara kita. 

Oleh sebab itu, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan. Sejatinya kita harus mengingat, bahwa penderitaan selalu hadir bersamaan dengan janji penghiburan dari Tuhan.

Kata “hibur” disini menggambarkan tentang upaya memberi semangat atau dukungan. Jadi, kata “penghiburan” dipakai Paulus pertama kali untuk menyebut Allah sebagai “sumber segala penghiburan” (ayat 3). Pertanyaan, siapakah yang dihibur?. 

b. Dihibur untuk menghibur yang menderita

Rasul Paulus pernah mendapat penghiburan dari Tuhan, ketika ia mengalami banyak penderitaan (ayat 4). Oleh sebab itu ia berani mengatakan, "apapun jenis penderitaan yang kita alami dan bagaimanapun intensitasnya, Allah akan menyediakan penghiburan dan kekuatan yang kita perlukan". 

Namun seharusnya pernghiburan tersebut, tidak berhenti hanya untuk diri kita sendiri saja. Melainkan harus bersedia menjadi agen Allah untuk menghibur orang lain. sebab hanya orang yang pernah menderita, yang lebih tahu bagaimana cara menghibur orang lain yang sedang menderita. 

Selanjutnya dalam perjalanan hidup rasul Paulus ketika menderita, yang ia sebut sebagai “kesengsaraan Kristus” (ayat 5). Hal itu disampaikan pada jemaat Korintus. Tapi jemaat Korintus tidak menghargainya. Padahal pendertiaan itu dialaminya karena pelayanannya pada mereka . 

Untuk itu Paulus merasa perlu meluruskan sikap mereka yang tidak simpatik. Pemikiran mereka salah, karena menganggap penderitaan itu membuat mereka lemah. Padahal, justru karena menderita maka penghiburan yang melimpah datang dari Kristus Yesus. 

Meski demikian, secara pribadi rasul Paulus menyadari bahwa penderitaan yang ia alami, untuk kepentingan jemaat di Korintus tidak pernah sia-sia. Tetapi menjadi berkat bagi mereka. 

Karena bagaimanapun setelah ia mendapat penghiburan dari Allah, maka ia menjadi sanggup untuk melakukan penghiburan kepada mereka yang sedang menderita.

c. Penderitaan salah satu ajang instrospeksi  

Kaitannya dengan iman Kristen, sesungguhnya penderitaan yang kita alami karena iman kepada Kristus bukanlah kutuk, melainkan berkat. Sebagaimana ketika Kristus Yesus menderita di kayu salib adalah untuk kepentingan kita. 

Maka jikalau pun kita mengalami penderitaan, justru dengan cara itu kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain. Dengan catatan dalam penderitaan itu, penghiburan yang kita harapakan hanya dari Allah. 

Penting kita ketahui kaitannya dengan introspeksi. Sebenarnya Tuhan tidak pernah mengatakan, bahwa ketika kita memutuskan untuk menjadi pengikutnya. Maka jalan kita akan selalu mulus dan rata, atau hidup kita akan selalu bahagia tanpa penderitaan. 

Tetapi, Dia berjanji akan menemani dan memberi kekuatan kepada kita. Supaya tidak ada satu hal apapun yang terjadi dalam hidup kita di luar rencana Allah. 

Oleh karena itu, penderitaan seharusnya bukan menjauhkan kita dari Allah, melainkan membawa kita lebih dekat. Selain itu, akan membawa kita juga semakin dekat dengan saudara-saudara seiman di dalam Kristus. 

Maka, jika pada saat ini kita sedang dalam kepahitan, kesulitan, dan berbagai pergumulan lainnya. Tetaplah bersandar dan menaruh harapan kepada Tuhan yang adalah sumber penghiburan kita. Amin.


- Lampiran nas renungan

2 Korintus 1 ayat 5: “Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.”

Posting Komentar untuk "Pentingnya Instrospeksi Diri Atas Penderitaan Hidup [2 Korintus 1:5]"