Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alasan Mengapa Lebih Baik Mendengar Dibanding Bicara [Yakobus 1:19]

Salah satu anugerah terindah yang diberikan Allah kepada kita adalah panca indra. Pemberian yang berharga ini ditujukan untuk memuliakan Dia, serta menolong kita hidup dalam persekutuan dengan Dia dan sesama. 

Masa kini tidak ada lagi batasan bagi kita untuk saling berbagi atau sharing. Setiap orang saat ini telah bisa mengekspresikan diri kapan saja, melalui cara konvensional, seperti panggilan telepon atau nongkrong bareng secara tatap muka, atau lewat media digital seperti Facebook, WA, Twitter, Instagram, dan TikTok. 

Suatu kemajuan yang sangat menolong. Namun, seiring dengan kesibukan dan hiruk pikuk dunia yang semakin kompleks saat ini, tak jarang menimbulkan stres, frustrasi, bahkan kecurigaan kepada orang lain tanpa alasan yang jelas. 

Atas kondisi tersebut, ketika emosi timbul terlalu cepat, maka interaksi bisa berakhir jadi kebencian. Pun, jikalau diskusi dilakukan bisa menjadi perdebatan yang bertendensi sentimentil.  

A. Pentingnya membangun komunikasi dengan kasih

Selaku orang percaya, kita dipanggil untuk berkomunikasi berlandaskan kasih. Supaya kita menjadi pembawa berkat dalam setiap interaksi dengan sesama. Terlebih pada saat dimana teknologi digital yang sudah mendominasi saat ini.

Menjadi pertanyaan awal, bagaimana caranya agar melalui komunikasi kita dapat memuliakan Tuhan?. Dan, apa manfaat yang kita peroleh bila berkomunikasi dengan baik?. 

Komunikasi yang baik adalah dialog dua arah. Artinya antara bicara dan mendengar terjadi saling bergantian. Bahkan nas hari ini berkata, satu pihak hendaklah cepat mendengar dan yang lain lambat untuk berkata-kata.

Sampai disini pertanyaan muncul kembali, untuk mengintrospeksi diri kita. 

  1. Sudahkah kita cepat mendengar dan lambat bicara dalam rumah tangga, dengan keluarga, kerabat, relasi maupun kepada jemaat?. 
  2. Apakah komunikasi kita selalu berjalan dengan baik dan menunjukkan kedewasaan iman?.
  3. Sudahkah komunikasi kita menunjukkan buah dari Firman yang ditaburkan di dalam diri kita?. 

B. Mengapa komunikasi tidak ada yang sempurna

Harus diakui komunikasi tidak ada yang sempurna. Bahkan ketika komunikasi itu kita lakukan dengan Tuhan. Namun selaku orang percaya kita harus membangun komunikasi yang baik, yaitu dengan pertolongan Roh Kudus.

Menganai hal inilah yang ditekankan rasul Yakobus kepada jemaat yang berserak, dan dilanda konflik saat itu. Supaya selalu membangun komunikasi yang baik antara satu dengan yang lain. Teknisnya adalah sebagaimana tertulis dalam kalimat “Cepat untuk mendengar”.

Cepat untuk mendengar dalam ayat tersebut berarti agar lebih memilih memposisikan diri sebagai pendengar dibanding sebagai pembicara. Bukan justru sebaliknya.

Jadi kalau kita bandingkan dengan dengan kebiasaan manusia yang cenderung egois saat ini, butuh aktualisasi diri, dan ingin menunjukkan kehebatannya melalui kecakapan berkata-kata. Perintah Tuhan dalam ayat terseebut sangat kontras, alias bertentangan atau bertolak belakang. 

Oleh sebab itu tak jarang komunikasi yang dijalin berakhir menjadi konflik. Pula atas dasar itu Penulis menyebut bahwa setiap komunikasi tidak ada yang sempurna. Kecuali dibangun atas dasar kesatuan dengan Roh Kudus.

C. Tolak ukur kecakapan yang paradoks antara bicara dan mendenar

Melanjutkan hal kontras yang disebutkan diatas. Orang hebat saat ini sering diukur dari kecakapan berbicara, bukan dari keahliannya untuk mendengar. Mengapa?. Jawabnya seperti renungan sebelumnya. Karena tolak ukur manusia sering pada tampilan luar, dan perawakan/pembawaan.

Kalau mau jujur, sebenarnya menjadi pendengar yang baik sangat sulit, dan membosankan. Karena mayoritas manusia kurang tertarik mendengar apa yang dikatakan orang lain, karena merasa sudah tahu apa yang terjadi. Atau karena alasan-alasan non teknis lainya, misalnya sangat sibuk.

Pesan rohani pertama yang tersirat dalam ayat renungan hari ini, mengatakan bahwa kerelaan dan kesediaan mendengar adalah bukti kasih kepada sesama. Sejalan dengan Injil Lukas 16:10, yang mengatakan agar setia pada hal-hal kecil.

Mendengarkan orang lain memang tergolong pekerjaan kecil, tapi dengan cara itu berarti kita telah menunjukkan simpati, membuka hati, siap berbagi, dan selanjutnya semoga mampu meringankan beban hidup orang yang berbicara  

Pesan rohani yang kedua, sebagai pendengar diharapkan tidak setengah-setengah. Melainkan berusaha mengerti dan memahami apa yang dikatakan pembicara. Sehingga kita dapat merespon dengan kasih, kemudian baru membuka mulut untuk bicara menyampaikan beberapa solusi, penghiburan, atau sekedar motivasi. 

Cukup sederhana sebenarnya bukan?. Jadi itulah makna “lambat untuk berkata-kata,” yang sesungguhnya. Artinya supaya menghindari sifat asal omong, dan kebiasaan interupsi/memotong pembicaraan. Tetapi membiasakan diri berpikir dahulu sebelum berbicara. 

Semoga nas hari ini memberi kekuatan bagi kita untuk mendengar dan berbicara sesuai dengan firman Tuhan. Supaya semua dialog/komunikasi yang kita bangun menjadi kemuliaan bagi-Nya, serta berkat bagi sesama. 

Dengan pertolongan Roh Kudus, kiranya kita dapat berkomunikasi dengan baik. Dan dapat menunjukkan karakter atau citra Kristus Yesus dalam kebenaran dan kasih. 

- Kutipan nas renungan

Yakobus 1 ayat 19; “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;” Amin.

- Catatan khusus

Bilamana Saudara membutuhkan bantuan desain Bangunan Gereja silahkan hubungi laman kami Jasa Arsitek dan Konstruksi Baja melalui tautan ini. Sebagai bentuk kontribusi dan uapan syukur kami kepada Tuhan, maka biaya tidak dikenakan. Tuhan Memberkati.

Posting Komentar untuk "Alasan Mengapa Lebih Baik Mendengar Dibanding Bicara [Yakobus 1:19]"