Tujuan Dan Proses Pendewasaan Iman Orang Percaya [Ayub 23:10]
Semua kita tahu bahwa emas dikategorikan sebagai logam mulia. Pengkategorian tentunya dilakukan setelah melihat sifat emas yang sangat berbeda dengan logam yang lain.
Ketika logam lain mengalami degradasi warna, karena satu dan lain hal. Ternyata emas, sang logam mulia tetap pada warna aslinya. Bahkan ketika apapun yang ada di sekitarnya, emas tetap tidak terpengaruh.
Maka tidak mengherankan bila ada ucapan bijak yang menyebutkan, “emas dilemparkan kemana saja tetaplah emas”. Oleh sebab itu, Ayub memakai emas menjadi bahan inspirasi.
a. Pendewasaan iman sifatnya wajib bagi orang percaya
Secara spesifik dalam nas ini Ayub menggambarkan pengalaman imanya seperti proses pemurnian emas. Pengakuan Ayub ini muncul tatkala ia mengalami pergumulan yang berat dan mendalam.
Pada momen tersebut Ayub tetap percaya, serta mempunyai keyakinan teguh bahwa proses tersebut berlangsung lancar. Sehingga berkata, “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” (ay. 10).
Begitulah proses pendewasaan iman dilakukan oleh Allah dengan berbagai strategi. Salah satunya adalah menguji Ayub, hingga terasa seperti benar-benar terpisah dari Allah.
Allah memang bisa saja seolah-olah meninggalkan atau melupakan kita. Sehingga hari-hari yang kita jalani sering diwarnai oleh kekeringan rohani, keraguan, dan perasaan tidak nyaman. Akhirnya jiwa terasa gelap, dan hati menjadi dingin.
Jikalau hal itu tengah terjadi, mari kita belajar dari perkataan Ayub, “Aku tahu, Allahku hidup. Ia tahu jalan hidupku dan ujian yang diijinkan terjadi dalam hidupku akan membuat aku cemerlang seperti emas.”
b. Tujuan dan proses pendewasaan iman yang sejati
Kisah penderitaan Ayub ini dimaksudkan untuk mengajarkan kita, bahwa selalu ada rencana terbaik di balik ujian hidup yang Tuhan izinkan menimpa kita.
Serta dari cara pandang Ayub mengenai persoalan, mengajar kita bahwa Tuhan memegang kendali kehidupan kita. Untuk menjalani proses pendewasaan iman yang lebih murni.
Untuk itu kita harus sadar bahwa hidup kita ibarat emas, sehingga begitu berharga di mata Tuhan. Namun, jika Tuhan “membakar” hidup kita, sebenarnya Dia tidak bermaksud ingin menghancurkannya.
Sebaliknya, Dia ingin mendapati kualitas iman yang teruji dan mulia. Yaitu sebuah kehidupan yang tanpa cela dan noda. Atas dasar itu Ayub menyadari harus ada sebuah proses yang harus ia terima dan lewati.
Sepintas metode pemurnian emas adalah memanaskan emas pada temperatur tertentu, hingga mencair. Di saat emas sudah cair, maka berbagai kotoran yang melekat akan naik ke permukaan. Seperti debu, karat dan unsur-unsur logam lain.
Dengan cara tersebut, maka semua kotoran ini bisa dipilah dan dibuang. Tidak hanya sekali, proses ini harus dilakukan berulang-ulang. Hingga akhirnya diperoleh emas yang benar-benar murni, bebas dari segala kotoran dan campuran logam lainnya.
c. Pentingnya mempertahankan kemurnian iman
Apa yang sering dialami orang percaya belakangan ini, sepertinya semakin tidak mudah. Ada yang menerima ancaman intimidasi, atau paksaan, ada pula yang berbentuk godaan duniawi. Yang mana setiap saat bisa meluluh-lantahkan iman.
Satu sisi hal itu bisa kita anggap sebagai ujian, dengan dalih menjadi alat ukur kemurnian iman kita. Akan tetapi bagaimana kita mengukur keteguhan iman percaya kita kepada Tuhan?. Jawabnya hanya melalui pencobaan.
Pencobaan Tuhan izinkan membawa kita ke dalam penderitaan. Dan penderitaan akan membangkitkan pengharapan dan ketekunan iman. Dengan demikian kita telah melatih iman kita agar lebih kuat, dan lebih murni dihadapan Tuhan.
- Lampiran nas renungan
Ayub 23 ayat 10: “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” Amin.

Posting Komentar untuk "Tujuan Dan Proses Pendewasaan Iman Orang Percaya [Ayub 23:10]"