Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kesempurnaan Kuasa Tuhan Hanya Pada Orang-orang Lemah [2 Korintus 12:9]

Di tengah-tengah Kristen kita sering mendengar ungkapan :”Jangan kuatir, Allah tidak pernah membebankan melebihi apa yang dapat kamu pikul”. Yang disampaikan oleh seseorang yang merasa lebih baik keadaannya, kepada orang yang sedang dalam pergumulan. 

Ungkapan ini secara umum tentu bertujuan baik. Namun sesungguhnya dalam dunia Kekristenan kurang tepat. Mengapa?. Apakah antara Firman Tuhan ada yang kontradiksi?. 

a. Kuasa Tuhan pada Paulus

Berulangkali dalam Alkitab kita melihat, Allah memberikan kepada orang-orang melebihi apa yang dapat mereka pikul secara emosional, spiritual dan fisikal. Sebut saja salah satu Paulus.

Bagi Paulus tentu tidak gampang menghadapi penjara, penghinaan, penderitaan, penganiayaan, pelecehan, fitnahan bahkan kelaparan, kehausan, insomnia, ditelanjangi dan kedinginan. Demi menjalankan tugas panggilan sebagai pemberita Injil (2 Kor.11:21-29). 

Dia bukanlah seorang pahlawan gagah perkasa yang terlatih dan tahan banting. Melainkan, dia belajar menyandang status sebagai orang yang terpanggil. Dengan mengandalkan kekuatan yang bersumber Tuhan Yesus. 

Ketika menghadapi segala sesuatu Paulus tidak pernah mengandalkan dirinya sendiri. Melainkan dalam kelemahannya ada kuasa Tuhan yang besar bekerja. Jadi, benar-benar Allah memenuhi segala sesuatu yang dia perlukan. 

b. Kuasa Tuhan pada Daud dan Ayub

Mirip dengan Paulus, Daud juga bergumul dan berjuang dari ketakutan, kekuatiran serta penderitaan yang dialaminya pada saat pelarian. Hal itu terlihat dari Mazmur yang ditulisnya sendiri. Dipenuhi dengan permohonan pertolongan kepada Tuhan. 

Pada situasi tersebut, dia tidak mau jatuh ke dalam keputusasaan, tetapi tetap memusatkan pandangannya kepada Tuhan yang telah pernah menolongnya di masa lalu (Mzm.52:9b). 

Dengan kata lain, sekalipun dalam situasi sulit Daud mengetahui apa yang harus dilakukan. Yaitu menanti pertolongan Tuhan, percaya pada janji dan kuasa Tuhan bekerja.

Demikian juga Ayub. Ketika ia kehilangan hartanya, kesehatannya, kekayaannya, sahabatnya bahkan anak-anaknya dalam waktu singkat. Ia mencari dan mengandalkan kekuatan yang berasal dari Tuhan

Singkatnya, 2 tokoh kitab Perjanjian Lama ini memberi kita teladan dalam hal kelemahan. Walaupun tengah menanggung beban yang mustahil untuk dipikul, bukan berarti kita otomatis menyerah. Melainkan menyiapkan diri agar kuasa Tuhan bekerja lebih sempurna dalam diri kita.

c. Fakta hidup orang percaya

Selama kita hidup, kesulitan dan tantangan adalah sesuatu yang tidak pernah dapat kita tunda atau hindari. Sebab cepat atau lambat persoalan hidup pasti akan datang.

Salah satu persoalan tersebut yang sering mengkhawatirkan saat ini adalah kesehatan. Ketika sudah ke dokter berulangkali, hasilnya tetap kurang memuaskan. Bahkan tak jarang menerima berita buruk. 

Demikian juga konflik keluarga, kehilangan pekerjaan, usaha bangkrut, kuliah gagal serta berbagai macam persoalan hidup lainnya yang selalu menanti. Dan, membuat kita selalu khawatir. Dalam hal ini, bukankah kita benar-benar lemah?. 

Melalui nas renungan hari ini, Tuhan berjanji  bahwa hanya di dalam Dia kita dapat menemukan ketenangan dan damai sejahtera. Sebab dalam kelemahan kitalah kuasaNya akan menjadi sempurna.

Jadi sekalipun banyak persoalan di dunia ini, Tuhan telah mengalahkannya semuanya (Yoh. 16:33). Oleh sebab itu, jangan pernah meninggalkan Dia. Supaya kita tetap kuat menghadapi segala macam persoalan. 

Lampiran nas renungan

2 Korintus 12 ayat 9: "Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” Amin.


Posting Komentar untuk "Kesempurnaan Kuasa Tuhan Hanya Pada Orang-orang Lemah [2 Korintus 12:9]"