Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Senyap Menanti Pertolongan Tuhan [Ratapan 3:26]

Setiap orang pasti pernah mengalami penderitaan, masalah dan tantangan dalam hidupnya. Karena hal-hal tersebut sebagian hanya berkeluh kesah, atau menangis menyendiri. Tanpa melakukan satu usaha apapun.

Parahnya, ada yang panik. Lalu pergi mencari pertolongan kepada orang lain, dan mencoba melakukan penyelesaian dengan cara yang tidak benar.  Akhirnya ia tetap menderita. Dan, lama kelamaan putus asa.

Kondisi yang nyaris sama dialami bangsa Israel, ketika nabi Yeremia menulis buku Ratapan. Yakni sekitar tahun 586-585 sebelum Masehi. 

Buku ratapan Yeremia ini berisi tentang jatuhnya bangsa Israel ke tangan musuh. Kota Yerusalem hancur. Begitu juga Bait Suci yang didirikan raja Salomo pada waktu itu. Ditambah lagi rakyat terbuang ke Babel. 

a. Janji pertolongan Tuhan atas dasar kasih

Kala itu bangsa Israel kalah perang. Lalu, menderita dan jatuh miskin/melarat. Yang lain ditawan dan dibawa ke Babel untuk dipaksa kerja rodi. Membuat hati Yeremia sangat sedih. 

Padahal kalau mau jujur itu adalah hukuman Tuhan kepada bangsa Israel. Karena mereka tidak tidak mengindahkan peringatan Tuhan melalui nabi-nabi untuk mau bertobat. 

Tetapi di tengah “kedukaan massal” itu nabi Yeremia tetap menyampaikan pengharapan yang hidup kepada bangsa Israel tentang kasih karunia Tuhan. Firman-Nya, “karena tidak selama-lamanya Tuhan mengucilkan. Karena walau Ia mendatangkan susah. 

Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya” (ayat 31-32). Tuhan juga tetap membuka kasih setia-Nya. Tidak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi besar kesetiaan-Nya (bdk. pasal 3:22-23). 

b. Sikap yang terbaik tatkala menanti pertolongan  

Firman Tuhan ini mengingatkan kita dalam menghadapi penderitaan, masalah, tidak membuat kita menjauh dari Tuhan. Daripada terus berteriak, mengeluh, mengaduh, menangis atau melakukan tindakan-tindakan yang didasari emosi yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Lebih baik menaati apa yang diajarkan menurut Tuhan, yaitu mengambil waktu untuk diam. Diam dalam menanti pertolongan Tuhan baik bagi kita, karena bisa fokus mengambil momen perenungan, introspeksi ke dalam diri kita, mencari tahu kalau-kalau ada yang masih belum kita bereskan. 

Dengan diam kita bisa mengajak pikiran dan hati kita untuk kembali mengingat bahwa ada Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Tuhan yang mampu melakukan segala sesuatu, bahkan yang paling mustahil sekalipun. 

Kita kembali mengingat janji-janji Tuhan yang begitu mengasihi kita, kuasa-Nya yang ajaib yang mengatasi bumi. Sementara menantikan pertolongan Tuhan, jangan panik. Tetaplah kita pegang janji Tuhan. 

Kita harus tetap mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan, karena pertolongan kita datangnya hanya dari Tuhan saja. Percayalah Tuhan tetap memiliki berbagai cara untuk melepaskan kita. 

- Lampiran ayat renungan

Ratapan 3 ayat 26: “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan.” Amin.

Posting Komentar untuk "Cara Senyap Menanti Pertolongan Tuhan [Ratapan 3:26]"