Baiknya Pilih Menerima Penganiayaan Atau Membaca Kitab Suci? [2 Timotius 3:10-17]
Kalau Saudara ditanya mending menerima penganiayaan atau membaca Kitab Suci?. Maaf, kalau seseorang imannya masih dangkal pasti menjawab membaca Kitab Suci. Akan tetapi jikalau imannya telah kuat pasti memilih yang pertama, yaitu siap dianiaya. Mengapa?. Karena sesuai ketentuan yang tertulis dalam nas 2 Timotius 11-12. Bahwa sebagai orang Kristen kita harus siap teraniaya dan sengsara.
Alasan kedua, jikalau Saudara memilih membaca Kitab Suci. Muncul pertanyaan yang sifatnya ingin memperjelas jenis Kitab Suci mana yang harus dibaca?. Apakah Kitab Suci Kristen mula-mula yang ditulis dalam bahasa Ibrani, Yunani, Aramik, Arab atau Latin?. Emang bisa?. Tidak kan?.
Demikian juga jikalau disebut yang akan kita baca adalah Kitab Suci yang ditulis dalam bahasa Indonesia, yaitu Alkitab. Pertanyaan selanjutnya, apakah Kitab Suci Kristen yang berbahasa Indonesia hanya Alkitab?. Tidak kan?. Dalam hal ini Penulis ingin menyampikan kebenaran bahwa Kitab Suci Kristen ada 3 macam, jika ditinjau dari level atau eksistensinya, yaitu: 1]. Alkitab, 2]. Kitab Deutrokanonik (Kitab Apokrif), dan 3]. Tulisan-tulisan bapak-bapak gereja.
Jadi, terlalu naif jikalau kita langsung mengatakan bahwa lebih baik membaca Kitab Suci dibanding menerima penganiayaan. Sejujurnya keduanya sama-sama sulit dan butuh pengorbanan yang luar biasa. Misalnya dalam hal untuk mengerti isi Alkitab, tisak jarang kita harus "tersiksa" secara spritual agar bisa memahami isi Firman Tuhan.
A. Pertobatan Paulus dan penganiayaan yang diterima
Proses pertobatan Paulus dari kelompok Farisi yang sangat ekstrim/primitif, adalah diawali oleh kematian Stefanus. Dia menyaksikan sendiri pada saat itu Stefanus dirajam batu oleh satu kelompoknya, karena Stefanus teguh dalam pemberitaan Injil. Dan perlu kita ketahui, Stefanus lah pengikut Kristus yang pertama, yang mendapat perlakukan hukum Yahudi dengan cara rajam batu.
Tidak lama berselang pasca kematian Stefanus, Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Saulus dengan maksud agar Saulus, "Mengajar dan memperbaiki" (ayat 16) kelakuan pribadi, maupun orang-orang yang ada di sekitar dia yang berlaku "Jahat dan menipu" (ayat 13) orang-orang percaya.
Pada pertemuan tersebut kemuliaan Tuhan spontan menutupi penglihatan Saulus. Disebabkan oleh dosa-dosa yang ia perbuat sebelumnya, terutama kepada pengikut-pengikut Kristus. Dengan kata lain, sebenarnya Saulus tidak layak bertemu dengan Tuhan. Maka pada ayat 11 ia berkata, "Aku sudah menderita penganiayaan dan sengsara".
Maksudnya penganiayaan disini adalah secara psikis. Yakni bertemu dengan dengan sosok yang paling ia benci. Logikanya, wong pengikutNya saja sudah dia benci, apalagi pemimpinnya?. Kemudian makna sengsara yang dimaksud Saulus disini adalah secara fisik. Dimana akibat dari perjumpaan dengan Tuhan Yesus, Saulus menjadi buta selama 3 tahun.
Apakah proses pertobatan Paulus berhenti sampai disitu?. Tidak!. Seorang sahabat seperjuangannya dahulu (senior) bernama Ananias, yang mengobati matanya agar bisa melihat kembali, terang-terangan menampar Paulus didepan umum. Karena bersaksi bahwa ia telah menjadi pengikut Kristus.
Apakah penganiayaannya sampai disitu?. Tidak!. Ananias dan tokoh-tokoh Farisi lainnya melakukan berbagai cara untuk menjegal Paulus. Salah satu diantaranya adalah menyuruh ormas gelap Yahudi untuk memata-matai pergerakan Paulus. Singkat cerita, sampai pada nas hari ini ditulis penderitaan itu masih Paulus rasakan. Sebab ia saat itu di penjara kerajaan Romawi.
Jadi, semua Surat-surat Paulus yang ditujukan kepada jemaat-jemaat dalam kitab PB dia tulis dari dalam penjara. Sementara "Kurir" yang mengantar surat tersebut adalah murid-muridnya. Seperti Filemon, Timotius, Barnabas dan Titus.
Sampai disini poin yang mau disampaikan kepada orang percaya masa kini, antara lain:
- Jikalau saudara tidak bersyukur karena tidak perlu seperti Saulus yang menderita secara fisik, dan psikis agar bisa menerima Yesus. Bagaimana mungkin saudara bisa melakukan pemberitaan Injil dengan sungguh-sungguh?.
- Jikalau motivasi saudara hanya ingin nyaman dan populer, sementara sauadara-sauadara se-iman yang butuh uluran tangan suadara abaikan, bukankah hal itu adalah bukti bahwa Injil yang sauadara terima tanpa salib?.
- Jikalau saat ini kita bebas melakukan pertemuan dengan Yesus Kristus dalam Roh, namun tidak kita pakai kesempatan itu secara maksimal, bukankah pantas dipertanyakan bahwa pertumbuhan iman kita tidak dalam keadaan baik-baik saja?.
B. Pelayanan Paulus dan team di jemaat mula-mula
Jemaat mula-mula terdiri dari 2 macam latar belakang, yaitu:
- Yahudi. Berpusat di Yerusalem dan diketuai oleh Yakobus. Mereka disebut dengan nama Nasrani (Pengikut Yesus dari Nazaret) oleh orang-orang Farisi dan Saduki.
- Non Yahudi. Berpusat di Antiokhia. Merekalah yang pertama sekali mendeklarasikan diri sebagai orang Kristen (Pengikut Kristus). Namun secara struktural pada saat itu belum ada pemimpin diantara mereka sebagaimana diterapkan di Yerusalem. Akan tetapi masih dalam pelayanan langsung oleh para rasul.
Kaitannya dengan nas hari ini, Timotius yang sering disebut Paulus sebagai anak rohani, ternyata mendapat perlakuan yang sama dengan apa yang dia alami sebelumnya. Yakni menderita sengsara akibat pemberitaan Injil. Oleh sebab itu, Paulus memberi mood boster melalui perkataan, "Tetaplah berpegang pada kebenaran!" (Ayat 14). Dan menerima fakta bahwa, “Dalam Kristus Yesus harus menderita” (Ayat 12).
Kebenaran yang seperti apa maksudnya?. Pada masa itu ada selisih pendapat internal orang percaya, yang berlatar belakang Yahudi dengan non Yahudi tentang esensi/penerapan Hukum Taurat. Antara lain mengenai Sunat dan makanan Haram.
Orang Kristen yang berlatar-belakang Yahudi mengatakan harus sunat dulu agar bisa di babtis. Tetapi, orang Kristen non Yahudi mengatakan tidak!. Dengan alasan karena Taurat diperuntukan khusus bagi orang-orang Israel/Yahudi sejak nabi Musa, bukan kepada seluruh umat manusia. Jadi yang wajib melaksanakannya adalah orang-orang Israel/Yahudi saja.
Adapun perlakuan bagi non Israel adalah hukum Kasih yang berasal dari Kristus Yesus, yang kedatanganNya justru dinubuatkan dalam hukum Taurat untuk menggenapi:
- Sunat fisik yang bersifat simbolik, diganti dengan sunat rohani.
- Bahwa yang haram bukan makanan yang kita makan atau masukan dalam tubuh, akan tetapi apa yang keluar dari tubuh.
Perbedaan pandangan itu pula yang rasakan langsung oleh Paulus. Karena 2 anak rohaninya, yakni Timotius dan Titus berasal dari latarbelakang yang berbeda. Timotius berasal dari orang Yahudi, sementara Titus adalah orang Yunani. Oleh sebab itu ia berpesan pada ayat 10, "Ikutilah teladan orang percaya!".
Teknisnya bagimana?. Karena Timotius berasal dari salah satu suku bangsa Israel, maka Paulus memerintahkan dia agar menaati hukum Taurat. Sementara kepada Titus, Paulus berpesan tidak perlu menjalankan hukum Taurat, karena ia asli orang Yunani. Alasannya seperti yang disebutkan pada ayat 17, "Allah akan memperlengkapi engkau untuk setiap perbuatan baik". Jadi tidak perlu neko-neko atau ikut-ikutan.
Permasalahan umat Kristen sekarang, sering tidak sadar lebih Yahudi daripada orang Yahudi disana. Kadang lebih Nasrani daripada orang-orang Nasrani zaman gereja mula-mula. Padahal orang Nasrani sendiri saat ini sudah menolak sebutan itu ditujukan kepada mereka. Karena pada perkembangannya nama Nasrani dibajak oleh sekelompok aliaran sesat.
Sadar atau tidak orang percaya saat ini juga sering mempermasalahkan hal-hal secara tekstual tanpa memahami konteks lebih dulu. Contoh dekat perintah membaca Alkitab, sebagimana disebutkan pada judul perikop hari ini.
Saya yakin diantara kita masih banyak yang belum selesai membaca Alkitab. Tapi, sudah membuat pernyataan-pernyataan sok Alkitabiah disana-sini. Memberi tafsiran-tafsiran, bahkan stigma-stigma melebihi orang Farisi zaman dulu. Padahal orang Farisi yang asli sudah beralih jadi Kristen semua.
Terakhir, Paulus mengatakan bahwa iman dapat bertumbuh dengan 2 cara sekaligus yakni: 1]. Siap menderita dan sengsara, 2]. Membaca Alkitab. Jadi kita tidak disuruh memilih salah satu. Melainkan harus menerima dan melaksanakan kedua-duanya.
Artinya, ketika Paulus berkata, “Kitab Suci memberi engkau hikmat” (ayat 15). Maka kita akan semakin dimampukan untuk menghadapi segala sesuatu yang tidak kita mengerti, dan yang tidak kita harapkan dalam hidup ini. Selamat menyelesaikan pembacaan Alkitab. Tuhan Yesus Memberkati.
Renungan Minggu, 26 Oktober 2025 Wisma Elika Bandungan, Dalam Rangka PAB NGKPS Semarang

Posting Komentar untuk "Baiknya Pilih Menerima Penganiayaan Atau Membaca Kitab Suci? [2 Timotius 3:10-17] "