Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Begini Cara Agar Iman Kita Diperhitungakan Allah Sebagai Kebenaran [Roma 4:18-25]

Nats khotbah pada minggu ini mengingatkan kita kembali tentang iman yang benar. Yang akan kita pelajari dari Abraham, bapa orang percaya. Ingatkan siapa Abraham yang dikisahkan dalam kitab Kejadian, Perjanjian Lama?.

Pada bagian ini secara khusus Paulus menjelaskan mengenai iman kepada jemaat di Roma. Mengapa perlu demikian?. Karena iman itu memang sulit untuk didefensikan secara kata-kata. Maka dari itu, teladan yang terbaik dalam menjelaskan bagaimana iman itu seharusnya adalah melalui iman Abraham.

Saudara terkasih, sekalipun tidak ada dasar bagi Abraham untuk berharap. Namun Abraham dinyatakan menurut Firman Tuhan menjadi bapa banyak bangsa. 

Kalau mau jujur, secara logika sangat sulit untuk menerima apa yang difirmankan Tuhan kepada Abraham, bahkan bisa dikatakan itu adalah satu hal yang sangat mustahil. Karena kerjadian tersebut tidak lama setelah musibah Air Bah. Yang mengakibatkan penduduk bumi masih sedikit.

Namun karena Tuhan yang berfirman, walaupun mustahil menurut pemikiran manusia, Abraham tetap percaya. Ia berharap, taat serta setia mengikut Tuhan. Karena bagi Abraham Tuhan berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. 

Oleh sebab itu pula secara tidak langsung Abraham telah menunjukkan bagaimana standar iman orang percaya. Sehingga Allah kemudian memperhitungkannya sebagai kebenaran.

Saudara yang diberkati Tuhan. Sebenarnya terdapat perdebatan sebelum teks ini mengenai kebenaran oleh melakukan hukum taurat, dengan kebenaran oleh iman. Dijelaskan bahwa bukan karena perbuatan-perbuatan Abraham kemudian dia dibenarkan, namun oleh karena imannyalah seluruh hidupnya diperhitungkan sebagai kebenaran. 

Satu contoh, pertanda bahwa Abraham bersama dengan semua keturunannya dikatakan sebagai umat Tuhan adalah dengan bersunat. Akan tetapi, bukan karena Abraham telah bersunat maka dia dibenarkan. Melainkan karena dia telah diperhitungkan sebagai kebenaran oleh iman percayanya, maka dia kemudian bersunat. 

Demikian juga dengan segala perbuatan-perbuatan baik manusia. Bukan karena perbuatan baik itu manusia dibenarkan. Akan tetapi, oleh karena iman kepada Kristus. Sehingga manusia dituntun Roh Kudus untuk hidup dalam perbuatan yang baik dan benar.

Kemudian ada pertanyaan dari penjelasan tentang iman Abraham ini kepada kita. Apa indikator yang bisa mengukur bahwa manusia dapat dikatakan telah memiliki iman seperti Abraham?. 

Indikator utamanya dapat terlihat dari visi hidup kita sebagai orang Kristen. Bila visi / cita-cita kita, atau harapan hidup kita hanya sekelas cita-cita biasa menurut ukuran dunia ini saja, maka belum bisa kita katakan memiliki iman seperti Abraham. 

Contohnya, bila cita-cita kita hanya sekadar sembuh dari penyakit, memiliki harta (menjadi orang kaya), memiliki jabatan yang tinggi, dihormati, dan lain sebagainya. Semua itu masih bisa kita dapat menurut usaha sebagai manusia. 

Namun, Abraham mengaharap pada sesuatu yang lebih spesial, dan boleh disebut mustahil dicapai menurut standar usaha manusia. Apa itu?. Yaitu kehidupan sorgawi, hidup kekal bersama dengan Kristus. 

Betapapun relasi kita banyak, harta berlimpah, dan jabatan mentereng, serta mengerahkan segaya daya dan upaya. Ketahuilah bahwa itu semua sia-sia. Artinya kita tidak bakal memperoleh seperti apa yang dicita-citakan oleh Abraham.  

Satu-satunya cara adalah percaya dengan sungguh-sungguh kepada Firman Tuhan. Kemudian ntatakanlah itu secara konsisten  melalui ketaatan dan kesetiaan. Maka Allah akan memperhitungkan iman kita sebagai kebenaran.

Posting Komentar untuk "Begini Cara Agar Iman Kita Diperhitungakan Allah Sebagai Kebenaran [Roma 4:18-25]"