Cara Menjaga Kemurnian Iman Muda-mudi Gereja Agar Semakin Berintegritas Dan Bertanggungjawab [Roma 12:2]
Pergaulan sehari-hari muda-mudi secara khusus dalam lingkungan gereja pasti sering diperhadapkan pada satu pilihan sulit. Yaitu antara ikut arus yang dominan atau mayoritas. Atau tetap pada pendirian, yakni menolak opsi tersebut sekalipun akan banyak yang membenci.
Lebih spesifik lagi, halnya dengan pertumbuhan iman muda-mudi gereja. Juga termasuk pilihan yang sangat sulit mengingat proses yang harus dilalui sangat Panjang, dan tidak ada pilihan cara sederhana, atau alternatif jalan pintas. Maka tak jarang harus menjalaninya sendiri dengan segala keterbatasan. Akhirnya tak sedikit yang putus asa, karena merasa tidak menemukan apa-apa dibalik kepercayaan yang dia imani. Serta tidak melakukan pencegahan terhadap kesulitan-kesulitan yang bakal terjadi.
Nats renungan hari ini adalah solusi yang tepat untuk menumbuhkan motivasi muda-mudi gereja, agar tetap memiliki iman yang murni ditengah-tengah pergaulan dan gaya hidup yang dinamis. Dengan harapan bukan menjadi orang yang mudah menyerah, melainkan semakin berintegritas dan bertanggungjawab dalam mangarungi derasnya arus globalisasi.
A. [Aplikasi] Contoh Kasus Kriteria
Dalam nats renungan ini ada 3 kata sifat yang mengandung makna spesial, yaitu: 1]. Baik, 2]. Berkenan, dan 3]. Sempurna. Sedangkan antonim 3 kata ini adalah: Jahat, tidak Berkenan, dan tidak Sempurna.
Nah, sekarang kata-kata kunci ini akan saya simulasikan dalam sebuah contoh kasus. Misalnya tentang seorang mahasiswa yang tengah menjalani study.
- Kombinasi 1:
Perhatikan 3 sifat berikut, jikalau sang mahasiswa:
Jahat; tidak Berkenan; tidak Sempurna
Maka tindakan dan output yang akan diperoleh adalah:
Malas Kuliah --> IPK 2,0 --> DO
Salah satu indikasi sederhana bahwa seorang mahasiswa jahat adalah ketika ia jarang masuk kuliah. Oleh sebab itu absensi kehadirannya di kampus tidak memenuhi syarat. Lalu, tugas-tugas mata kuliah juga tidak terpenuhi dengan standar minimal. Akhirnya, dipastikan nilai semester (IPK) yang diperoleh tidak lebih 2,0. Dan, alhasil jikalau hal tersebut terus berlanjut sampai pertengahan kuliah, maka si-mahasiswa pasti DO (Drop Out) oleh kampus.
Pertanyaan untuk kasus ini, siapa yang kecewa pertama sekali?. Apakah ia layak disebut berintegritas dan bertanggungjawab?. Bukakah ia telah terjerumus dalam gaya hidup yang tidak benar dalam jangka waktu yang lama, serta membuang biaya kuliah yang besar?.
- Kombinasi 2:
Bilamana si-mahasiswa:
Baik; Berkenan; tidak Sempurna
Output-nya adalah:
Rajin Kuliah --> Lulus 5 Tahun --> IP 3,0
Kasus yang ke-2, manakala si-mahasiswa rajin kuliah. Mengikuti semua arahan dosen dan peraturan-peraturan kampus dengan baik. Tentu ia bisa menyelesaikan study dalam waktu kurang dari 5 tahun. Pun nilai akhir (IP) yang diperoleh kala wisuda setidaknya ≥3,0. Tidak buruk.
Dalam hal ini secara umum ia telah menjadi teladan bagi mahasiswa-mahasiswa lain. Dan, cukup memuaskan bagi orang tua. Hanya saja waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kuliah masih terlalu lama, sehingga dipastikan biaya yang dikeluarkan juga relatif banyak. Selain itu, IP yang dicapai pun masih jauh dari kata sempurna.
- Kombinasi 3:
Tetapi jikalalu sikap mahasiswa adalah:
Baik; Berkenan; Sempurna
Berarti tindakan dan hasil yang diperoleh adalah:
Kuliah --> Lulus 4,5 Tahun --> Cumlaude
Aplikasi yang diharapkan dari nats renungan hari ini adalah seperti yang ditemui pada kombinasi kata sifat yang ke-3 ini. Cepat lulus dan memperoleh IP yang sempurna. Adalah harapan semua anak muda yang berintegritas, maupun para orang tua kepada anak-anaknya yang sedang kuliah.
Berdasarkan 3 contoh kasus simulasi kata sifat diatas, korelasi dengan firman Tuhan yang tercatat dalam Roma 12:2 ini kira-kira apa?. Untuk mengetahui jawaban sebenarnya, mari tempatkan diri Anda lebih dahulu sebagai seorang mahasiswa. Dan, tipologi dari mahasiswa dalam nas ini adalah jemaat Roma.
B. [Biblika] Serupa dengan Dunia VS Surupa dengan Allah
Pesan langsung yang dapat kita ambil dari renungan hari ini cukup banyak. Namun demikian sebelum beranjak pada pesan-pesan tersebut sebaiknya pahami dahulu aspek Biblika yang terkandung didalamnya.
B.1. Intertekstual nats
Larangan agar tidak serupa dengan dunia oleh Rasul Paulus kepada jemaat Roma, maupun kepada orang Kristen dan secara khusus kepada muda-mudi gereja saat ini adalah didasari oleh:
1.1. Kejadian 1:26
Paulus mengatakan agar tidak serupa dengan dunia dalam nas renungan ini pada dasarnya adalah mengutip apa yang dikatan oleh Allah dalam kitab Kejadian 1:6. Poin pentingnya dalam kitab tersebut adalah manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Berarti pada dasarnya yang empunya manusia adalah Allah, bukan dunia. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menuruti kehendak Allah. Apalagi berpaling dariNya, dan mengikuti apa yang dikehendaki oleh dunia.
Dunia disini maksudnya adalah segala hal yang diciptakan oleh manusia untuk memenuhi hasrat/kebutuhan jasmani semata untuk orang-orang tertentu. Karena sifatnya tidak umum, maka hal-hal dunia sering bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, dan melanggar firman Tuhan. Maka dari itu diperintahkan agar tidak ikut arus.
Fakta paradoks, manusia lebih sering tertarik dengan apa yang diciptakan oleh manusia padahal sifatnya sementara dan berguna hanya pada saat di dunia. Dibanding apa yang diciptakan oleh Allah sekalipun sifatnya kekal, dan bermanfaat untuk selama-lamanya di dunia dan di sorga.
1.2. Manusia sejak dulu terbukti condong pada dunia
Perilaku manusia serupa dengan dunia nyata terlihat sejak awal penciptaan, bahkan dalam seluruh kitab PL. Tidak berapa lama setelah Adam dan Hawa ditempatkan di Taman Eden langsung berbuat yang tidak dikehendaki Tuhan. Yakni mencuri/memakan buah pohon pengetahuan.
Generasi kedua setelah Adam juga demikian. Habel dibunuh oleh saudaranya sendiri, Kain. Singkatnya sampai pada zaman Nuh, Abraham, Musa, Hakim-hakim, Nabi-nabi hingga zaman raja-raja dalam kitab PL manusia cenderung condong pada hal-hal yang dikehendaki oleh dunia. Berlaku jahat, menjauhkan diri dari Tuhan, dan tidak menggambarkan entitas sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang mulia.
Oleh sebab itu Kristus Yesus datang ke dunia. Sebagaimana diwartakan dalam Injil dan seluruh kitab PB. Pun yang menjadi nats renungan hari ini adalah salah satu ayat yang tertulis dalam PB. Sebagai peringatan ulang kepada manusia agar tidak melakukan kesalahan (dosa) yang sama pasca Kristus.
B.2. Konteks dan Sejarah
Guna memahami makna Alkitab yang sesungguhnya harus dimulai dengan pendalam konteks dan sejarah. Tidak terkecuali apakah nas renungan tersebut singkat atau panjang. Diambil dari kitab PL atau PB. Dengan demikian kita akan mudah mengaplikasikan pesan yang tersirat dalam nas dalam kehidupan sehari-hari.
Ada 3 poin penting yang perlu diketahui terkait dengan konteks dan sejarah nas renungan hari ini, yaitu:
2.1. Jemaat Roma mula-mula adalah minoritas dan pendatang
Yaitu terdiri dari orang-orang Yahudi diaspora dan non-Yahudi. Jadi seluruhnya adalah warga pendatang, alias tak satu pun warga kerajaan Romawi. Oleh sebab itu dalam hal perlakuan hukum, norma-norma dan ajaran keagamaan antara jemaat Roma dan warga lokal berbeda jauh.
Dalam hal ini karena ada ketergantungan pada sistem pemerintahan di wilayah yang mereka diami, maka ada kemungkinan untuk mudah terpengaruh. Baik secara paksa oleh sistem pemerintahan tersebut, atau secara tidak sadar/alami lambat laun membuat mereka menjauh dari ajaran Kristus Yesus.
2.2. Bagi Jemaat Roma diberlakukan hukum Ius Gentium
Bagi seluruh warga pendatang yang berdomisili di wilayah kekaisaran Romawi kuno, termasuk jemaat Roma mula-mula diberlakukan hukum Ius Gentium. Sedangkan bagi warga asli diberlakukan Ius Romanum. Perbedaannya, Ius Gentium tidak tertulis seperti Ius Romanum, sehingga rentan untuk disalahgunakan dan menciptakan kedidakadilan.
Berdasarkan fakta hukum yang berlaku tersebut maka Paulus mengatakan agar bijak. Supaya sempurna, maka sebagai warga pendatang jangan berbuat jahat dimata hukum duniawi, pun sebagai umat Tuhan tetap berpegang teguh pada kehendak dan ketetapan Tuhan.
3.2. Kekaisaran Romawi kuno menyembah dewa
Jemaat Kristen di Roma sudah ada sejak abad pertama (Kisah 2:10). Dan, mulai berkembang pada akhir tahun 40-an. Sementara itu, kekaisaran Romawi kuno kala itu masih menyembah dewa. Alis belum menjadi Kristen. Kekaisaran Romawi menerima Kristus pada abad ke-4.
Jadi, jika ditinjauh dari perpektif keagamaan antara jemaat Kristen mula-mula di Roma, dan warga kerajaan Romawi jelas jauh berbeda. Sesungguhnya warga kerajaan Romawi lah gambaran dunia yang disebut dalam nas renungan ini. Sedangkan jemaat Roma adalah warga kerajaan Allah. Oleh sebab itu dalam hal sikap maupun perilaku pasti berbeda.
C. [Refleksi] Berubah oleh Pembaruan Budi sifatnya wajib
Pembaruan budi artinya transformasi pikiran, hati dan perasaan. Dalam hal menjaga kemurnian iman muda-mudi Kristen berarti:
1. Mengambil keputusan harus selalu berorientasi pada kehendak Allah
Sebuah keputusan selalu diperlukan untuk memulai sesuatu. Pertanyaannya, atas dasar apa keputusan tersebut diambil?. Apakah kehendak sendiri atau kehendak Allah?. Bilamana kehendak sendiri, apakah tujuannya untuk kebaikan?. Dan bilamana atas dasar kehendak Allah, apa barometer yang Saudara pakai untuk memastikan bahwa keputusan tersebut telah sesuai dengan kehendak Allah?.
Sesungguhnya permasalahan yang terjadi masa kini adalah pengulangan permasalahan-permasalahan yang telah pernah terjadi pada masa lalu. Contoh-contoh kasus yang tertulis dengan rapi, dan dapat kita pelajari dengan mudah untuk dijadikan acuan mengambil keputusan adalah Alkitab.
Misalnya tentang mencari pasangan hidup. Ada 2 contoh kasus dalam Alkitab. Pilihan pertama, teladan yang baik yaitu kisah Rut dan Boas. Sedangkan pilihan kedua, yang tidak pantas ditiru adalah kisah Nabi Hosea dan Gomer.
Singkatnya, berorientasi pada kehendak Allah pada saat mengambil keputusan artinya menjadikan firman Allah (Alkitab) sebagai dasar dan tipologi contoh kasus. Bukan oleh kemampuan, dan/atau keinginan diri sendiri. Dengan demikian berarti Anda telah melibatkan Tuhan dalam kehidupan Anda.
2. Perkataan, sikap dan perilaku harus selalu selaras dengan teladan Kristus Yesus
Pembaruan budi tidak cukup sekali saja. Melainkan setiap saat. Dan, indikasi bahwa seseorang telah berhasil melakukan pembaruan budi telihat ketika perkataan, sikap dan perilaku telah sinkron/sejalan. Alias tidak dualisme, atau standar ganda.
Kaitannya dengan tanggungjawab sebagai orang beriman. Jikalau perkataan, sikap dan perilaku tidak mencerminkan citra Kristus Yesus dipastikan kemurnian iman dapat terjaga dengan baik. Justru jikalau kondisi tersebut tidak segera dirubah sebagaimana yang diperintahkan dalam nas ini, dipastikan Saudara akan menjadi serupa dengan “dunia” ini.
Teladan Kristus tentang bagaimana cara bertutur kata, bagaimana cara bersikap dan berperilaku yang baik sangat banyak. Pula dapat kita temui dalam Alkitab. Jadi, sekalipun Anda masih muda dan belum berpengalaman dalam segala hal. Yesus Kristus telah memberi teladan. Pertanyaan, apakah Anda seorang Kristen yang berintegritas dan mengakui kekurangan kepada Tuhan agar diberi kesempurnaan?.
3. Tidak pernah kompromi dengan kejahatan
Sifat dualisme dan standar ganda adalah salah satu contoh kejahatan non fisik, namun memiliki dampak psikologis yang luar biasa. Misalnya dalam hal penerapan hukum Ius Gentium yang diberlakukan pada jemaat Roma mula-mula. Karena hukum tersebut tidak tertulis secara baku, maka besar kemungkinan diterapkan sesuai kehendak oleh orang yang berkuasa atas hukum tersebut. Padahal pada dasarnya hukum dibuat untuk menegakkan keadilan, sementara praktiknya tidak jarang diterapkan ganda.
Sebagai generasi muda Kristen yang berintegritas dan bertanggungjawab segala kejahatan harus dilawan. Dengan cara apa?. Jawabnya terdapat pada nas renungan hari ini juga. Yakni dengan cara membedakan mana yang baik menurut kehendak Tuhan, dan melakukannya dengan sempurna demi kemuliaan nama Tuhan.
Jadi, untuk mempertahankan kemurnian iman cara terakhir adalah tidak kompromi dengan kejahatan. Tidak kompromi disini maksudnya berupaya mencegah supaya tidak terjadi, dan tidak terlibat didalamnya jikalau benar-benar harus terjadi.
D. [Kesimpulan] Tidak bijak lari dari permasalahan
Selain kombinasi 3 kata sifat (baik, berkenan & sempurna) terdapat dalam nas renungan hari ini. Juga terdapat kombinasi kata larangan, perintah, dan satu kata penghubung sebab akibat yaitu ‘supaya’. Pesan yang tersirat tanpa membaca ayat sebelumnya atau sesudah nas ini pun, kita bisa memahami bahwa permasalahan yang dialami oleh jemaat Roma saat itu sangat kompleks.
Baik dalam Alkitab TB1; TB2 dan BIMK nas renungan hari ini sama-sama dimulai dengan kata “Janganlah”. Kata jangan disini ibarat pagar pembatas untuk tidak berbuat macam-macam. Melainkan harus sesuai aturan/perintah. Perintahnya apa?. Jawabnya, pada kalimat ke-2. Yaitu berubah!.
Jadi satu sisi nas ini membatasi ruang gerak, dengan mengatakan jangan. Tetapi sisi lain membuka jalan untuk melakukan inovasi atau pembaruan. Dengan tujuan agar permasalahan yang dihadapi dapat dikendalikan menjadi kondisi yang lebih baik, dan sempurna.
Pesan penting dari renungan hari ini khususnya untuk generasi muda gereja, agar layak disebut berintegritas dan bertanggungjawab. Adalah, jangan pernah alergi dengan permasalahan, tapi hadapi dengan bijak dan selesaikan dengan sempurna. Niscaya Tuhan akan memberkati. Amin


Posting Komentar untuk "Cara Menjaga Kemurnian Iman Muda-mudi Gereja Agar Semakin Berintegritas Dan Bertanggungjawab [Roma 12:2]"